Bukan Cuma Genetik, Ini Deretan Faktor Lain Pemicu Kanker Payudara

ALengkong • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 18:44 WIB
Ilustrasi pita pink yang menggambarkan kanker payudara (doc: Freepik)
Ilustrasi pita pink yang menggambarkan kanker payudara (doc: Freepik)

MANADOPOSTID - Anggapan bahwa perempuan tanpa riwayat genetik kanker dalam keluarganya pasti aman dari kanker payudara ternyata keliru. Dokter subspesialis Bedah Onkologi, dr. I Gusti Ayu Nari Laksmi Dewi, SpB, Subsp.Onk (K), menegaskan hal tersebut hanyalah mitos, mengingat penyebab kanker payudara bersifat multifaktorial dan tidak semata bergantung pada faktor keturunan.

Ia menjelaskan, kanker payudara sesungguhnya dapat dipicu oleh berbagai faktor sekaligus, sehingga tidak bisa dikaitkan hanya dengan riwayat genetik semata, melainkan juga sebab-sebab lain di luar itu. Pernyataan tersebut disampaikannya saat ditemui di Kaiser Cancer Center, BSD City, Tangerang, Kamis (30/7).

Selain faktor genetik, kanker payudara juga dapat dipicu oleh perubahan hormonal, seperti kadar estrogen yang tinggi, paparan radiasi elektromagnetik dari lingkungan sekitar, hingga gaya hidup tidak sehat seperti konsumsi alkohol berlebihan, menurut laporan dari laman Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan.

Dokter lulusan Universitas Airlangga ini turut meluruskan anggapan lain yang juga keliru, yakni bahwa setiap benjolan pada payudara pasti merupakan kanker. Menurutnya, benjolan pada payudara, khususnya pada perempuan berusia di bawah 35 tahun, cukup sering ditemukan dan tetap memerlukan pemeriksaan lebih lanjut guna memastikan apakah termasuk tumor jinak atau ganas.

Ia menambahkan, kanker pada perempuan, termasuk kanker payudara, kerap kali tidak menimbulkan keluhan berarti, khususnya pada stadium awal, sehingga baru terdeteksi setelah benjolan membesar. Menurutnya, banyak pasien dengan keluhan benjolan di payudara yang ternyata merupakan tumor ganas justru tidak merasakan gejala apa pun di awal kemunculannya, karena benjolan tersebut umumnya tidak terasa sakit, hingga akhirnya membesar dengan cepat dan barulah menimbulkan gejala.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya edukasi seputar kanker, terutama terkait upaya deteksi dini. Menurutnya, semakin cepat kanker terdeteksi, semakin besar pula peluang kesembuhan bagi pasien. Ia pun menganjurkan agar perempuan rutin melakukan SADARI (Periksa Payudara Sendiri) setiap bulan guna mendeteksi benjolan sedini mungkin, yang kemudian perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan medis untuk memastikan sifat benjolan tersebut.

Sementara itu, Founder sekaligus Managing Director Kaiser Cancer Center, dr. Adithia Kwee, menyampaikan bahwa kanker menjadi salah satu penyakit yang banyak menyerang kaum perempuan. Menurutnya, satu dari delapan perempuan sebenarnya berisiko mengalami kanker payudara, yang menjadikannya jenis kanker dengan insiden tertinggi di kalangan perempuan, sementara kasus kanker serviks, kanker ovarium, dan kanker rahim pun turut menunjukkan tren peningkatan.

Data BPJS Kesehatan turut memperkuat gambaran ini, dengan mencatat peningkatan signifikan kasus kanker payudara sepanjang periode 2021 hingga 2025, yakni bertambah sekitar 860 ribu kasus dalam kurun waktu tersebut, dari 1.080.031 kasus pada 2021 menjadi 1.941.410 kasus pada 2025.

Editor : ALengkong
Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5673223/kanker-payudara-tak-hanya-dipicu-faktor-genetik?utm_source=antaranews&utm_medium=desktop&utm_campaign=popular_right
#perempuan #kanker payudara #kanker