MANADOPOSTID - Guru besar dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Prof. Dr. R. Budi Haryanto, S.K.M., M.Kes., M.Sc, mengungkapkan bahwa paparan polusi udara berdampak signifikan terhadap kesehatan anak, mulai dari gangguan pertumbuhan otak hingga penurunan fungsi paru-paru.
Menurutnya, tingginya tingkat paparan berbagai polutan udara, yang bersumber dari bahan bakar rendah emisi dan tidak sehat, dapat meningkatkan risiko sejumlah penyakit kronis. Ia menyampaikan hal itu dalam acara International Council on Clean Transportation (ICCT) di Jakarta, Selasa (4/8). Menurutnya, risiko penyakit kronis seperti gangguan paru, penyakit jantung, hingga stroke kini tidak lagi hanya menjadi persoalan orang dewasa, mengingat tingginya eksposur polusi turut menjadikan anak-anak sebagai kelompok yang rentan terdampak.
Ia menjelaskan, anak-anak menjadi kelompok yang lebih rentan terhadap dampak polusi udara karena masih berada dalam tahap pertumbuhan, termasuk sistem imunitas tubuh yang belum berkembang secara sempurna. Di sisi lain, aktivitas anak yang cenderung lebih tinggi turut meningkatkan kebutuhan udara mereka. Sebagai gambaran, dalam kondisi normal seseorang bernapas sekitar 20 kali per menit, namun saat beraktivitas fisik seperti berlari atau bersepeda, frekuensi tersebut bisa meningkat hingga 30 kali per menit, atau bahkan dua kali lipat dari kondisi biasa.
Ia menambahkan, jika dalam kondisi normal sekali tarikan napas memasukkan sekitar 500 mililiter udara, maka semakin cepat frekuensi pernapasan, semakin banyak pula udara, termasuk polutan di dalamnya, yang masuk ke dalam paru-paru.
Lebih lanjut, Prof Budi menjelaskan bahwa dampak polusi udara terhadap organ paru, baik pada anak, remaja, dewasa, maupun lansia, sangat bergantung pada jenis dan jumlah polutan yang terhirup. Ia mencontohkan partikel polutan berukuran kecil seperti PM2.5 yang dapat menembus dari paru-paru masuk ke aliran darah, kemudian menyebar ke jantung dan beredar ke seluruh tubuh. Paparan jangka panjang terhadap partikel semacam ini dapat memicu berbagai penyakit, seperti asma, pneumonia, hingga penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta bronkitis dan gangguan fungsi paru lainnya.
Selain berdampak pada sistem pernapasan, paparan polusi udara juga berisiko memengaruhi sistem saraf pusat, terutama ketika polutan kimia yang terhirup mengganggu fungsi otak. Dampaknya dapat memicu berbagai gangguan neurologis, mulai dari penurunan fungsi kognitif, demensia, alzheimer, hingga stroke.
Prof Budi menyoroti bahwa berdasarkan sejumlah penelitian, paparan polusi udara juga dikaitkan dengan penurunan tingkat kecerdasan (IQ) pada anak, yang berimbas pada rendahnya nilai akademik maupun prestasi belajar mereka di sekolah, mengingat seluruh dampak tersebut bermuara pada gangguan sistem saraf pusat yang berkaitan langsung dengan fungsi otak.
Editor : ALengkong