MANADOPOST.ID — Obesitas pada perempuan tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan penampilan semata. Kondisi ini merupakan penyakit metabolik kronis yang berdampak luas terhadap kesehatan, mulai dari sistem reproduksi, metabolik, kardiovaskular, hingga kesehatan mental. Melalui diskusi bertajuk The Missing Conversation: Weight and Women’s Health, Novo Nordisk Indonesia mendorong pemahaman bahwa penanganan obesitas harus dilakukan secara komprehensif, berbasis sains, dan disesuaikan dengan kondisi setiap individu.
Urgensi isu ini semakin nyata setelah Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat sekitar 47,2 juta orang dewasa di Indonesia hidup dengan obesitas. Prevalensinya pada perempuan mencapai 36,4 persen, lebih tinggi dibanding laki-laki sebesar 24,4 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa perempuan menghadapi tantangan kesehatan yang lebih kompleks akibat obesitas, terutama karena perubahan hormonal yang terjadi sepanjang siklus hidup.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Cynthia Agnes Susanto, BMedSc, Sp.OG, menjelaskan bahwa obesitas dapat meningkatkan risiko gangguan menstruasi, ovulasi, infertilitas, hingga komplikasi kehamilan. Salah satu kondisi yang berkaitan erat adalah Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS), istilah baru yang menggantikan PCOS untuk menggambarkan gangguan endokrin dan metabolik yang lebih komprehensif. Menurutnya, sekitar 35–50 persen perempuan dengan PMOS juga mengalami obesitas sehingga gejala dan risiko komplikasi menjadi lebih berat.
Seiring berkembangnya ilmu kedokteran, pendekatan penanganan obesitas kini tidak hanya mengandalkan perubahan pola makan dan aktivitas fisik, tetapi juga melibatkan dukungan psikologis, terapi farmakologis, hingga bedah bariatrik sesuai indikasi medis. Salah satu inovasi yang mendapat perhatian adalah terapi GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA) yang bekerja mengatur mekanisme rasa lapar dan kenyang. Terapi ini dinilai mampu mendukung quality weight loss dengan mengurangi massa lemak sambil mempertahankan massa otot, serta berpotensi menurunkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 20 persen pada pasien yang memenuhi indikasi medis.
Associate Director Medical and Regulatory Novo Nordisk Indonesia, dr. Riyanny Meisha Tarliman, menegaskan bahwa perempuan membutuhkan akses terhadap informasi kesehatan yang benar agar dapat mengenali risiko obesitas sejak dini dan memperoleh penanganan yang tepat bersama tenaga kesehatan. Sebagai bagian dari komitmen edukasi, perusahaan juga menghadirkan platform NovoCare.id yang menyediakan informasi berbasis sains mengenai obesitas, kalkulator BMI, hingga panduan mencari dokter untuk konsultasi. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi stigma terhadap obesitas sekaligus meningkatkan kesadaran bahwa pengelolaan berat badan merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan perempuan secara menyeluruh.(AME)
Editor : Amelia Beatrix