Telur Retak Masih Aman Dimakan? Ini Penjelasan Ahli

ALengkong • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 09:42 WIB
Ilustrasi telur retak (doc: Freepik)
Ilustrasi telur retak (doc: Freepik)

MANADOPOSTID - Telur dengan cangkang retak ternyata tidak selalu harus langsung dibuang, karena tingkat keamanannya bergantung pada kapan retakan tersebut terjadi dan apakah telur sampai mengalami kebocoran.

Pakar keamanan pangan sekaligus Direktur Alliance to Stop Foodborne Illness, Vanessa Coffman, PhD, menjelaskan bahwa telur yang sudah retak sebelum dibeli sebaiknya dihindari, karena bakteri dapat masuk melalui celah pada cangkang yang rusak. Ia menyarankan agar telur yang retak sebelum dibawa pulang langsung dibuang atau kartonnya tidak dibeli sama sekali, sebagaimana dikutip dari laman Health, Minggu (9/8).

Berbeda halnya jika retakan terjadi setelah telur dibawa pulang atau saat ditangani di rumah. Menurut Coffman, telur semacam ini masih dapat digunakan asalkan segera dimasak hingga matang. Namun, apabila telur retak sampai bocor, sebaiknya telur tersebut langsung dibuang tanpa ditunda. Ia menambahkan, telur yang baru retak di rumah juga bisa dipecahkan ke dalam wadah bersih, ditutup rapat, disimpan di lemari pendingin, lalu digunakan dalam waktu maksimal dua hari.

Retakan pada cangkang berpotensi menjadi celah masuknya bakteri Salmonella yang dapat memicu keracunan makanan. Kelompok yang menghadapi risiko lebih serius akibat kontaminasi ini antara lain anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Untuk telur retak yang direbus, Coffman menjelaskan bahwa telur umumnya masih aman dikonsumsi apabila sebelumnya dalam kondisi bersih dan segar, serta dimasak hingga mencapai suhu sekitar 71 derajat Celsius. Sementara itu, telur setengah matang yang retak memiliki risiko lebih tinggi, karena bagian kuning telur kemungkinan belum mencapai suhu tersebut. Selain suhu, bau dan tampilan fisik juga bisa dijadikan indikator tambahan untuk menilai kondisi telur, meski uji apung tidak dapat dijadikan patokan yang benar-benar andal, sebab telur yang mengapung tidak selalu berarti sudah rusak.

Sementara itu, ahli gizi Amy Woodman dari Farmington Valley Nutrition and Wellness menjelaskan bahwa telur yang masih baik umumnya memiliki putih telur yang jernih dan kuning telur berwarna kuning cerah. Perubahan tekstur seperti putih telur yang lebih encer atau kuning telur yang tampak lebih pipih dapat terjadi seiring bertambahnya usia telur, dan tidak selalu menandakan bahwa telur tersebut sudah rusak. Meski begitu, telur yang telah retak dalam waktu lama atau mengalami kebocoran tetap sebaiknya dibuang guna menghindari risiko kontaminasi bakteri.

Editor : ALengkong
#telur retak #dampak telur retak #bakteri