Langkah-langkah untuk Mencegah Gangguan Pernapasan Semasa Kemarau

ALengkong • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 12:01 WIB
Ilustrasi polusi udara (doc: Freepik)
Ilustrasi polusi udara (doc: Freepik)

MANADOPOSTID - Ahli kesehatan Prof. Dr. R. Budi Haryanto, S.K.M., M.Kes., M.Sc menyampaikan bahwa penyakit pernapasan sering muncul selama musim kemarau, salah satunya karena potensi peningkatan polusi udara pada periode tersebut. Guru besar di Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini menjelaskan bahwa debu dan berbagai polutan udara lainnya dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan apabila terhirup.

Ia menambahkan bahwa polusi udara turut meningkatkan peluang masuknya virus dan bakteri penyebab infeksi ke dalam saluran pernapasan. Menurutnya, paparan polusi udara dapat memicu berbagai macam gangguan pernapasan, tidak hanya terbatas pada infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA, melainkan mencakup seluruh reaksi tubuh yang muncul saat terpapar dalam waktu dekat.

Ia menjelaskan, gejala gangguan saluran pernapasan yang umum ditemui bisa berupa batuk, pilek, iritasi tenggorokan, hingga hidung tersumbat. Apabila keluhan yang dirasakan lebih parah, misalnya sampai kesulitan bernapas, napas terasa berat, dada terasa sakit, jantung berdebar-debar, atau cepat merasa pusing, maka kondisi tersebut dianggap lebih berbahaya. Individu yang mengalami gejala berat semacam itu, menurutnya, harus segera dibawa ke dokter agar mendapat penanganan yang dibutuhkan.

Prof. Budi mengemukakan bahwa pencegahan gangguan pernapasan akibat paparan polusi udara pada musim kemarau mencakup upaya perlindungan individu maupun penanganan di sisi lingkungan. Dari sisi individu, ia menyarankan penggunaan masker serta memantau kualitas udara agar dapat menghindari paparan polusi, disertai upaya mengurangi masuknya polutan ke dalam rumah dan penggunaan pendingin atau pembersih udara. Langkah serupa, menurutnya, juga dapat diterapkan di lingkungan kantor guna meminimalkan masuknya polutan ke ruang kerja. Ia menambahkan, daya tahan tubuh juga perlu ditingkatkan lewat konsumsi makanan bervitamin dan berserat agar kondisi tubuh tetap baik.

Dari sisi lingkungan, Prof. Budi menekankan pentingnya upaya menekan polusi udara dengan melarang kegiatan membakar sampah secara sembarangan, mencegah kebakaran hutan dan lahan, serta menindak tegas para pelaku pembakaran lahan. Penyebab polusi udara di wilayah perkotaan, seperti penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil, menurutnya juga perlu ditekan, antara lain dengan menyediakan sarana transportasi umum yang memadai serta mendorong penggunaan kendaraan yang lebih ramah lingkungan, mengingat kendaraan bermotor menyumbang lebih dari 50 persen polusi udara di wilayah perkotaan.

Sementara itu, ia menyebut polusi udara akibat kegiatan industri dapat ditekan dengan mendorong penerapan pendekatan yang lebih ramah lingkungan dan rendah emisi di setiap tahapan proses produksi.

Editor : ALengkong
#gangguan pernapasan #penyakit musim kemarau #dampak polusi udara