MANADOPOST.ID - Pengelolaan diabetes, hipertensi, dan kebiasaan merokok sejak usia paruh baya menjadi tiga faktor penting yang dapat dikendalikan untuk membantu menekan risiko demensia. Informasi tersebut menjadi bagian dari pembahasan mengenai upaya mengurangi risiko penurunan fungsi kognitif sebelum seseorang memasuki usia lanjut.
Demensia tidak hanya berkaitan dengan proses penuaan, karena sejumlah faktor kesehatan dan gaya hidup dapat memengaruhi risiko seseorang mengalami penurunan fungsi kognitif. Pengendalian faktor yang dapat dimodifikasi menjadi salah satu pendekatan yang perlu diperhatikan sejak lebih awal.
Diabetes termasuk kondisi yang perlu dikelola karena kadar gula darah yang tidak terkendali dapat berkaitan dengan gangguan pada kesehatan pembuluh darah dan fungsi otak. Karena itu, pengelolaan diabetes menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan jangka panjang.
Hubungan antara diabetes dan fungsi kognitif juga terlihat dalam penelitian yang melibatkan pasien diabetes melitus tipe 2. Penelitian tersebut menemukan hubungan bermakna antara kadar gula darah puasa dengan gangguan fungsi kognitif pada pasien yang diteliti.
Dalam penelitian tersebut, sebanyak 41 pasien diabetes melitus tipe 2 memenuhi kriteria penelitian. Hasilnya menunjukkan 24 pasien atau 58,5 persen mengalami gangguan fungsi kognitif berdasarkan pemeriksaan yang digunakan dalam penelitian.
Penelitian yang diterbitkan dalam Plexus Medical Journal tersebut juga menemukan hubungan bermakna antara kadar gula darah puasa dan fungsi kognitif. Analisis penelitian menghasilkan nilai p sebesar 0,016 serta odds ratio sebesar 6,5.
Faktor berikutnya yang perlu dikendalikan adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi. Kondisi tersebut dapat berlangsung tanpa gejala yang jelas sehingga pemeriksaan dan pengendalian tekanan darah menjadi penting untuk mengurangi dampak kesehatan dalam jangka panjang.
Tekanan darah tinggi diketahui berkaitan dengan risiko gangguan pembuluh darah, termasuk pembuluh darah yang memasok otak. Karena itu, pengelolaan hipertensi menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga kesehatan otak dan mengurangi faktor risiko yang dapat dikendalikan.
Pedoman mengenai penurunan risiko penurunan kognitif dan demensia juga menempatkan pengelolaan hipertensi sebagai salah satu intervensi yang dapat ditawarkan kepada orang dewasa dengan kondisi tersebut. Pengendalian tekanan darah menjadi bagian dari pendekatan untuk menjaga kesehatan kognitif.
Faktor ketiga yang perlu diperhatikan adalah kebiasaan merokok. Penghentian penggunaan tembakau termasuk langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko penurunan kognitif dan demensia.
Pedoman kesehatan yang membahas pengurangan risiko penurunan kognitif dan demensia merekomendasikan intervensi penghentian tembakau kepada pengguna tembakau. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pencegahan yang dapat dilakukan sepanjang kehidupan.
Ketiga faktor tersebut memiliki kesamaan karena masih dapat dipengaruhi melalui pengelolaan kesehatan dan perubahan kebiasaan. Artinya, upaya menjaga kesehatan otak tidak harus menunggu seseorang memasuki usia lanjut atau mengalami gangguan daya ingat.
Pendekatan pencegahan juga perlu dilakukan secara berkelanjutan karena faktor kesehatan pada usia paruh baya dapat berkaitan dengan kondisi kognitif pada usia berikutnya. Pengendalian penyakit kronis dan penghentian kebiasaan berisiko menjadi bagian dari langkah tersebut.
Selain tiga faktor tersebut, risiko demensia juga berkaitan dengan berbagai kondisi lain yang dapat dimodifikasi. Pedoman terbaru yang dibahas dalam sumber kesehatan mencakup antara lain obesitas, gangguan pendengaran, pola makan, aktivitas fisik, serta konsumsi alkohol.
Pola hidup sehat juga menjadi bagian dari pendekatan menjaga kesehatan otak. Aktivitas fisik, pola makan seimbang, serta pengelolaan berbagai kondisi kesehatan dapat dilakukan bersamaan dengan pemantauan faktor risiko yang sudah diketahui.
Pemeriksaan kesehatan secara berkala dapat membantu seseorang mengetahui kondisi seperti diabetes dan hipertensi sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih serius. Dengan mengetahui kondisi tersebut lebih awal, pengelolaan dapat dilakukan sesuai kebutuhan dan anjuran tenaga kesehatan.
Upaya menekan risiko demensia dengan demikian tidak hanya berfokus pada masa lanjut usia. Pengendalian faktor risiko sejak usia paruh baya memberikan kesempatan lebih panjang untuk menjaga kesehatan pembuluh darah, metabolisme, dan fungsi otak.
Pengelolaan diabetes, hipertensi, serta penghentian kebiasaan merokok bukan berarti menjamin seseorang terbebas dari demensia. Namun, ketiga langkah tersebut merupakan bagian dari faktor yang dapat dikendalikan dalam upaya mengurangi risiko penurunan kognitif di kemudian hari.
Editor : ALengkong