Jangan Keliru, Ini Perbedaan Keracunan dan Alergi Makanan

ALengkong • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 19:23 WIB
Ilustrasi orang keracunan makanan (doc: Freepik)
Ilustrasi orang keracunan makanan (doc: Freepik)

MANADOPOSTID - Keracunan makanan dan alergi makanan sering dianggap sebagai kondisi yang sama karena keduanya dapat muncul setelah seseorang mengonsumsi makanan tertentu. Padahal, penyebab dan mekanisme terjadinya kedua kondisi tersebut berbeda sehingga penting untuk mengenali gejalanya dengan tepat.

Keracunan makanan terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi. Kontaminasi dapat berasal dari bakteri atau racunnya, virus, parasit, maupun bahan kimia. Karena sumber masalah berada pada makanan yang dikonsumsi, siapa pun yang menyantap makanan tercemar tersebut berpotensi mengalami keracunan.

Gejala keracunan umumnya berupa mual, muntah, diare, sakit perut, demam, dan dalam kondisi tertentu dapat disertai pusing. Keluhan biasanya muncul dalam rentang beberapa jam hingga satu atau dua hari setelah makanan tercemar dikonsumsi. Jika makanan yang sama dikonsumsi banyak orang, kasus keracunan juga dapat terjadi secara bersamaan dalam jumlah besar.

Sementara itu, alergi makanan berkaitan dengan respons sistem kekebalan tubuh terhadap protein tertentu yang terdapat dalam makanan. Kondisi ini hanya terjadi pada individu yang memiliki sensitivitas terhadap bahan makanan tersebut. Karena itu, makanan yang memicu alergi pada seseorang belum tentu menimbulkan reaksi serupa pada orang lain.

Reaksi alergi juga dapat muncul relatif cepat, mulai dari beberapa menit hingga beberapa jam setelah makanan dikonsumsi. Gejalanya dapat berupa rasa gatal, biduran, pembengkakan pada bibir atau kelopak mata, hingga kesulitan bernapas. Dalam reaksi alergi berat, seseorang bahkan dapat mengalami penurunan kesadaran sehingga membutuhkan penanganan medis segera.

Perbedaan lainnya dapat dilihat dari pola kejadiannya. Keracunan makanan berpotensi memengaruhi sekelompok orang apabila mereka mengonsumsi sumber makanan tercemar yang sama. Sebaliknya, alergi bersifat individual karena dipengaruhi oleh respons sistem imun masing-masing orang dan tidak dapat menular kepada orang lain.

Anak-anak dan remaja perlu mendapatkan perhatian lebih ketika mengalami keracunan makanan. Cadangan cairan tubuh mereka lebih sedikit sehingga kehilangan cairan akibat muntah atau diare dapat memberikan dampak yang lebih besar. Sistem kekebalan dan saluran pencernaan yang masih berkembang juga dapat membuat kelompok usia muda lebih rentan terhadap infeksi tertentu.

Data tahun 2024 menunjukkan bahwa dari 1.164 kasus keracunan obat dan makanan yang tercatat di Indonesia, sebanyak 806 kasus berkaitan dengan makanan dan minuman. Kelompok remaja berusia 12 hingga 25 tahun tercatat menyumbang 42,96 persen kasus dalam data tersebut. Kondisi ini menunjukkan pentingnya memperhatikan keamanan makanan sekaligus memahami perbedaan antara keracunan dan reaksi alergi.

Editor : ALengkong
#KeracunanMakanan #AlergiMakanan #InfoKesehatan