Dokter Ungkap Alasan Berat Badan Sulit Turun Meski Sudah Diet

Amelia Beatrix • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 23:09 WIB
dr. Erwin Christianto, Sp.GK, M.Gizi, Ketua PDGKI
dr. Erwin Christianto, Sp.GK, M.Gizi, Ketua PDGKI

MANADOPOST.ID - Berat badan yang sulit turun meski seseorang sudah mengatur pola makan dan rutin berolahraga tidak selalu menunjukkan kurangnya disiplin. Secara medis, obesitas merupakan penyakit kronis kompleks yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari genetik, hormon, neurobiologi, perilaku makan hingga lingkungan.

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), dr. Erwin Christianto, Sp.GK, M.Gizi, mengatakan pemahaman bahwa obesitas semata-mata disebabkan terlalu banyak makan perlu ditinggalkan.

“Kalau dulu kita hanya mengenal obesitas karena makan terlalu banyak, sekarang kita tahu penyebabnya jauh lebih kompleks,” ujar dr. Erwin.

Menurutnya, faktor seperti gangguan pengaturan rasa lapar dan kenyang, stres, kurang tidur, kondisi metabolik hingga efek samping obat tertentu dapat berperan terhadap peningkatan berat badan. Karena itu, kondisi setiap orang tidak dapat disamakan.

Diet, kata dr. Erwin, pada dasarnya merupakan pengaturan pola makan, bukan berarti berhenti makan. Jika berat badan tetap tidak berubah setelah mengurangi asupan makanan, penyebabnya perlu dievaluasi. Kebiasaan ngemil yang tidak disadari hingga kondisi metabolisme dapat menjadi faktor yang berpengaruh.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mengikuti tren diet di media sosial. Pola diet yang berhasil pada seseorang belum tentu memberikan hasil serupa pada orang lain karena kondisi tubuh dan metabolisme berbeda.

Di Indonesia, persoalan obesitas juga menjadi perhatian. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, hampir satu dari empat orang dewasa mengalami obesitas. Kondisi tersebut berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular dan beberapa jenis kanker.

Masyarakat dapat melakukan skrining awal melalui Indeks Massa Tubuh (BMI), meski indikator tersebut bukan penentu tunggal kondisi kesehatan. Konsultasi dengan dokter diperlukan terutama jika berat badan atau lingkar perut terus meningkat selama dua hingga tiga bulan atau aktivitas sehari-hari mulai terganggu.

Penanganan obesitas pun tidak bisa menggunakan pendekatan yang sama untuk semua orang. Dokter Spesialis Gizi Klinik akan mengevaluasi penyebab, kondisi metabolik, komposisi tubuh serta kemungkinan penyakit penyerta sebelum menentukan terapi.

Perubahan gaya hidup tetap menjadi fondasi, termasuk pengaturan pola makan, aktivitas fisik dan pengelolaan stres. Pada kondisi tertentu, terapi medis dapat dipertimbangkan sebagai pendamping sesuai evaluasi dokter.(AME)

Editor : Amelia Beatrix
dr. Erwin Christianto berat badan