Data Pasien Indonesia Jadi Sorotan dalam Pengembangan Tata Laksana GERD

Amelia Beatrix • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 20:37 WIB
Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam menyampaikan pentingnya data klinis pasien Indonesia dalam menentukan strategi terapi GERD.
Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam menyampaikan pentingnya data klinis pasien Indonesia dalam menentukan strategi terapi GERD.

MANADOPOST.ID — Data klinis pasien Indonesia menjadi salah satu sorotan dalam pembahasan perkembangan tata laksana gastroesophageal reflux disease (GERD). Kebutuhan terhadap strategi pengobatan yang sesuai dengan karakteristik pasien di Indonesia mengemuka dalam simposium ilmiah yang digelar PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia dalam rangkaian Indonesian Digestive Disease Week (IDDW) 2026.

Simposium yang berlangsung di Shangri-La Jakarta, 18 September 2026, tersebut diikuti lebih dari 150 dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan gastroenterologi dari berbagai wilayah Indonesia. Forum ini membahas perkembangan terapi Potassium-Competitive Acid Blocker (P-CAB), bukti klinis lokal, serta pengalaman penggunaan terapi GERD di Korea Selatan.

Berdasarkan Konsensus Nasional Penatalaksanaan Penyakit GERD Indonesia 2022, prevalensi GERD pada populasi umum diperkirakan mencapai 9,35 persen. Sementara itu, data dari rumah sakit rujukan tingkat tersier menunjukkan 55,4 persen pasien GERD mengalami esofagitis erosif.

Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, MMB, Sp.PD, K-GEH, FACG, FACP, Ketua PB Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia, mengatakan tingginya proporsi pasien dengan esofagitis erosif menunjukkan pentingnya strategi terapi yang sesuai dengan kondisi klinis pasien Indonesia.

Dalam forum tersebut juga dipaparkan hasil investigator-initiated trial yang melibatkan 134 pasien di tiga rumah sakit besar di Jakarta. Data tersebut dinilai memberikan tambahan informasi mengenai karakteristik dan kebutuhan pasien GERD di Indonesia.

Dari sisi pengalaman internasional, Prof. Ahn Ji Yong dari Asan Medical Center memaparkan hasil studi fase 3 terhadap 263 pasien Korea Selatan dengan esofagitis erosif. Studi itu menunjukkan tingkat penyembuhan berdasarkan pemeriksaan endoskopi sebesar 99,1 persen pada minggu ke-8.

Pembahasan tersebut turut menjadi bagian dari momentum peluncuran fexuprazan, terapi P-CAB generasi baru dari Daewoong, di Indonesia. Perusahaan menyatakan akan melanjutkan pertukaran pengetahuan dan edukasi bersama tenaga kesehatan untuk mendukung perkembangan tata laksana GERD.(AME)

Editor : Amelia Beatrix
tata laksana pasien indonesia Daewoong GERD