Perubahan Iklim Picu Ancaman DBD, Kasus Malaria Indonesia Naik 69 Persen

Amelia Beatrix • Dipublikasikan Senin, 19 Oktober 2026 | 10:25 WIB
Associate Professor Henry Surendra dari Monash University Indonesia
Associate Professor Henry Surendra dari Monash University Indonesia

MANADOPOST.ID  – Nyamuk semakin menjadi ancaman di tengah perubahan iklim. Kenaikan suhu dan pergeseran pola hujan dapat memperluas wilayah perkembangbiakan nyamuk pembawa malaria dan demam berdarah dengue (DBD). Indonesia menghadapi tantangan serius: kasus malaria melonjak 69 persen dalam dua tahun.

Studi terbaru peneliti Monash University yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances mengungkap hubungan kompleks antara iklim, lingkungan, kondisi sosial-ekonomi, dan penularan penyakit bawaan nyamuk.

Di Indonesia, kasus malaria meningkat dari 418.000 pada 2023 menjadi 706.000 pada 2025. Pada tahun yang sama, DBD menyerang sekitar 161.937 orang, dengan angka kejadian 57,02 kasus per 100.000 penduduk.

Peneliti Monash University, Dr. Toby Cumming, menjelaskan bahwa perubahan suhu dan curah hujan memengaruhi habitat nyamuk Anopheles pembawa malaria serta Aedes penyebar DBD. Dampaknya berbeda menurut musim dan kondisi setiap wilayah.

Namun, iklim bukan satu-satunya penyebab. Associate Professor Henry Surendra dari Monash University Indonesia menyoroti peran aktivitas manusia. Pengendalian nyamuk dan pengobatan membantu menekan malaria, sedangkan urbanisasi dapat menciptakan kondisi yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes.

Tantangan DBD semakin besar karena belum tersedia obat khusus untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Karena itu, pencegahan dan pengendalian vektor menjadi bagian penting dalam menekan penularan.

Sejumlah pendekatan baru juga dikembangkan, termasuk vaksinasi dan teknologi Wolbachia. Metode terakhir memanfaatkan bakteri yang dimasukkan ke populasi nyamuk Aedes untuk mengurangi kemampuannya menularkan virus dengue.

Para peneliti menegaskan, penanganan penyakit bawaan nyamuk membutuhkan strategi terpadu. Pengendalian vektor, penguatan layanan kesehatan, vaksinasi, pemantauan lingkungan, dan pengurangan emisi gas rumah kaca perlu berjalan bersama.

Perubahan iklim memang tidak bekerja sendirian. Namun, ketika suhu meningkat dan lingkungan berubah, kewaspadaan tidak boleh menurun. Pencegahan harus bergerak lebih cepat daripada penyebaran penyakit.(AME)

Editor : Amelia Beatrix
Studi Monash University Malaria DBD