“Sebelumnya, saya atas nama pribadi memohon maaf jika ada perlakuan yang tidak mengenakkan kepada rekan-rekan wartawan,” ujar AKP PD dalam klarifikasinya di Manado, Kamis (02/12/2025) Siang.
Menurutnya, kejadian tersebut hanyalah miskomunikasi tanpa adanya maksud untuk melarang wartawan ambil makan. “Intinya, saya tidak bermaksud membuat malu atau apa pun. Sebetulnya, kami hanya memesan makanan dengan jumlah yang sangat terbatas, sesuai perintah,” jelasnya.
“Setelah jam 12 malam, anak buah saya bilang kalau makanan sudah diberikan ke yang lain, takutnya tidak cukup untuk para pejabat utama yang mungkin akan makan untuk kedua kalinya. Setelah videoconference, Pak Wakapolda bertanya apakah masih ada makanan. Saya sampaikan masih ada pak tapi terbatas,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam posisi saat itu menjadi serba salah karena persediaan makanan yang terbatas hanya disediakan khusus untuk para PJU. “Saya memang tidak mendengar perintah pak wakapolda kepada teman-teman untuk makan. Untuk itu mungkin ada kata-kata saya yang tidak mengenakkan, saya mohon maaf. Ke depan, kami akan lebih baik lagi,” katanya.
Klarifikasi tersebut disampaikan langsung oleh AKP PD, yang merupakan Kanit Regident Satlantas Polresta Manado. Ia didampingi oleh Kasat Lantas Polresta Manado, Kompol Heriadi Ismail, Kabag Ops Kompol Sugeng Wahyudi Santoso, dan Kasi Humas Iptu Agus Hariyono.
Kasat Lantas Polresta Manado, Kompol Heriadi Ismail, juga turut menyampaikan permohonan maaf atas nama institusi. “Kami mohon maaf kepada rekan-rekan media. Kami akui jika ada kehilafan atau hal-hal yang tidak mengenakkan. Ibu Pingkan sudah meminta maaf secara pribadi, dan kami juga meminta maaf secara kedinasan atas nama satuan lalu lintas,” ujar Kompol Heriadi.
Diberitakan sebelumnya, Seorang oknum polisi wanita (Polwan) dari Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Manado diduga melakukan tindakan yang memalukan terhadap sejumlah wartawan yang tengah meliput kegiatan Kapolda Sulawesi Utara (Sulut) di malam pergantian tahun.
Tindakan oknum Polwan tersebut dianggap tidak pantas dan menjadi perhatian publik, khususnya di kalangan jurnalis yang merasa solidaritas profesi mereka dilanggar.
Diketahui, kejadian tak mengenakkan dialami dua wartawan yang tergabung dalam Jurnalis Polda Sulut (JPS) saat meliput kegiatan pemantauan arus lalu lintas malam pergantian tahun di Posko Terpadu Nataru, kawasan Megamas Manado, Selasa (31/12/2024) malam. Seorang oknum Polwan Sat Lantas Polresta Manado, Pangkat AKP inisial PD, diduga melarang wartawan mengambil makanan yang telah disediakan.
Insiden tersebut terjadi saat para wartawan meliput kegiatan Kapolda Sulut Irjen Pol Roycke Harry Langie dan Wakapolda Brigjen Pol Bahagia Dachi di pos terpadu. Salah satu wartawan, menyebut bahwa perlakuan tersebut sangat memalukan.
"Kami awalnya menunggu Kapolda melakukan video conference di depan posko. Rekan saya mengajak untuk makan di belakang posko. Saat kami hendak mengambil makanan bakso yang sudah disediakan di meja, tiba-tiba oknum Polwan itu langsung melarang kami," ujarnya.
Menurutnya, oknum Polwan tersebut mengatakan bahwa makanan tersebut hanya diperuntukkan bagi pejabat utama (PJU).
"Dia langsung berkata, 'Jangan dulu, ini untuk PJU.' Kami pun mengurungkan niat untuk makan dan kembali ke depan posko," lanjutnya.
Namun, kejadian serupa kembali terjadi. Ketika acara hiburan berlangsung, Wakapolda Brigjen Pol Bahagia Dachi mengarahkan para wartawan untuk makan.
"Saya dan rekannya kembali mencoba mengambil makanan, namun larangan yang sama kembali diterima. Saat kami hendak mengambil makanan lagi, dia kembali melarang dengan kata, 'Jangan-jangan.' Perlakuan ini sangat tidak pantas, apalagi kami setiap hari meliput kegiatan Kapolda," ungkapnya dengan nada kesal.
Merasa diperlakukan tidak adil, para wartawan kemudian melaporkan insiden ini kepada Kapolresta Manado, Kombes Pol Julianto Sirait. Kapolresta pun segera menyampaikan permohonan maaf atas perilaku anak buahnya.
"Saya mohon maaf ya rekan-rekan atas perlakuan anggota saya. Sekali lagi, saya mohon maaf," ucap Kapolresta Manado.
Insiden ini menjadi perhatian dan diharapkan dapat menjadi evaluasi bagi jajaran Polri agar tetap menjaga etika dan menghargai kerja wartawan sebagai mitra strategis dalam peliputan kegiatan-kegiatan Polda Sulut.(hng)
Editor : Grand Regar