MANADOPOST.ID—Menjelang peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, Kapolda Sulut Irjen Pol Roycke Langie mengajak masyarakat memaknai kemerdekaan secara lebih mendalam, bukan sekadar terbebas dari penjajahan atau belenggu secara fisik, tetapi juga sebagai kemerdekaan hati, pikiran dan iman.
Pesan tersebut disampaikan Roycke saat mengikuti Ibadah Minggu bersama keluarga dan rombongan di GMIM Yarden Singkil, Kampung Islam, Kota Manado, Minggu (16/8/2026).
Berbaur bersama jemaat, jenderal bintang dua tersebut mengajak masyarakat mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif serta membangun kehidupan yang aman, rukun dan saling menghargai.
“Mari kita maknai bahwa kemerdekaan itu bukan sekadar terlepas dari belenggu duniawi, tetapi kemerdekaan itu harus kita isi. Kalau kita berbicara tentang kemerdekaan, ada satu proses panjang di dalamnya, salah satunya adalah kemerdekaan iman. Jika di antara kita kadang-kadang masih saling curiga, itu berarti hati kita belumlah merdeka sepenuhnya,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Roycke memaparkan tiga aspek penting yang menurutnya perlu diperhatikan agar masyarakat benar-benar merasakan kemerdekaan dari rasa takut dan konflik.
Pertama, personal security atau keamanan individu. Setiap warga harus merasa aman ketika menjalankan aktivitas, baik di gereja, masjid, kantor, pusat perbelanjaan maupun ruang publik lainnya.
Kedua, infrastructure security atau keamanan infrastruktur. Menurutnya, fasilitas umum yang memadai juga menjadi bagian dari terciptanya keamanan. Jalan rusak, minim penerangan hingga infrastruktur yang tidak memadai dapat memicu kecelakaan maupun persoalan sosial.
Ketiga, digital security atau keamanan digital. Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat diminta tidak mudah percaya dan menyebarkan informasi yang belum dipastikan kebenarannya.
Roycke menggambarkan betapa cepatnya sebuah informasi menyebar melalui media sosial dan aplikasi percakapan.
“Coba Bapak/Ibu cek HP masing-masing. Rata-rata satu orang memiliki minimal 11 grup WhatsApp. Mulai dari grup kampung, alumni, hingga keluarga. Bayangkan jika di 11 grup itu masing-masing berisi 50 orang, betapa cepatnya informasi menyebar. Di situlah pentingnya kita menjaga digital security mulai dari jari dan diri kita masing-masing. Pikiran kita harus jernih dan bersih,” pesannya.
Kapolda juga menyinggung perselisihan antarwarga yang sempat terjadi beberapa waktu lalu. Ia berharap pertemuan warga maupun kegiatan ibadah dapat menjadi ruang untuk membangun kembali kebersamaan.
Menurutnya, momentum baku dapa, baik secara fisik maupun iman, seharusnya memperkuat persaudaraan dan bukan justru menjadi ruang munculnya perpecahan.
“Kita harus menjaga kebersamaan. Jangan sampai informasi yang belum tentu benar justru membuat kita saling curiga dan terpecah."
Roycke menegaskan, menjaga keamanan dan mengisi kemerdekaan bukan hanya tugas aparat kepolisian.
Masyarakat juga memiliki peran penting untuk menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif. Salah satu langkah yang dinilainya penting adalah memperkuat keluarga sebagai “sekolah iman” bagi anak-anak.
Keluarga, kata dia, menjadi lingkungan pertama dalam membentuk karakter anak sekaligus membekali mereka menghadapi berbagai tantangan zaman.
Di akhir pesannya, Roycke mengambil pelajaran dari kisah Alkitab tentang Tuhan Yesus yang berdoa di Taman Getsemani. Ketika para murid tertidur karena kelelahan, terdapat pesan untuk tetap berjaga-jaga.
Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
“Begitu pula dengan kita, mari kita saling menjaga wilayah kita. Sikap berjaga-jaga ini dimulai dari diri sendiri, lalu kita tularkan ke keluarga kita. Jika Bapak/Ibu melihat potensi gangguan atau hal yang mencurigakan di lingkungan sekitar, segera sampaikan kepada petugas, aparat desa, atau pihak berwenang,” tutupnya.
Momentum HUT ke-81 RI pun menjadi pengingat bahwa kemerdekaan tidak hanya tentang kebebasan, tetapi juga tentang tanggung jawab menjaga persatuan, keamanan, ketertiban dan kedamaian di tengah masyarakat.(gnr)
Editor : Grand Regar