MANADOPOST.ID-Keluarga korban insiden drag race di Kelurahan Upai, Kotamobagu, Sulawesi Utara, meminta seluruh pihak menahan diri dan tidak memperkeruh suasana duka dengan pernyataan maupun informasi yang bersifat provokatif.
Insiden yang terjadi pada Minggu (9/8/2026) tersebut meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban. Namun, keluarga memilih menerima musibah dengan ikhlas sekaligus mengapresiasi perhatian pemerintah daerah dan panitia yang dinilai konsisten memberikan dukungan sejak peristiwa terjadi.
Murdani Pobela, suami almarhumah Risna Longkun, mengatakan keluarganya telah menerima kepergian sang istri sebagai ketetapan Tuhan. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang terus hadir memberikan perhatian dan belasungkawa.
“Syukur mo’anto (terima kasih) kepada para panitia, karena sampai sekarang alhamdulillah tidak pernah tertinggal dalam satu hari pun untuk belasungkawa kepada keluarga korban,” ujar Murdani.
Ia secara khusus mengapresiasi kunjungan Ketua Panitia Drag Race Lucky Sugeha, Wali Kota Kotamobagu Weny Gaib, Bupati Bolaang Mongondow, serta perwakilan keluarga Gubernur Sulawesi Utara.
Menurut Murdani, perhatian tersebut sangat berarti bagi keluarga yang tengah menghadapi kehilangan.
Namun, ia berharap pihak-pihak yang tidak berkepentingan tidak kembali mengangkat persoalan dengan cara yang dapat memancing emosi keluarga korban.
“Saya ingatkan kepada pihak-pihak lain agar tidak lagi memprovokasi masalah ini. Jangan sampai menggali lagi sakit hati yang paling dalam. Pihak-pihak lain yang tidak berkepentingan tidak usah memprovokasi,” tegasnya.
Sikap serupa disampaikan Rusdianto Mokoginta, suami almarhumah Harianti Mokoginta. Saat ditemui di kediamannya di Kelurahan Upai, Selasa (18/8/2026), Rusdianto mengatakan dirinya bersama keluarga berusaha mengikhlaskan musibah tersebut.
“Kami sudah ikhlas menerima. Sebab, apa yang terjadi semua atas kehendak Allah SWT,” kata Rusdianto.
Kini, Rusdianto memilih memusatkan perhatian untuk membesarkan kedua anaknya, Kelvin dan Mondy. Ia berharap masyarakat menghormati ruang keluarga korban untuk menjalani proses berduka tanpa dibebani polemik baru.
Sementara itu, Ketua Divisi Utama Investigasi Khusus Nasional KANNI (Komite Advokasi Nasional Indonesia) Chandra E. Damopolii mengimbau seluruh pihak tidak memanfaatkan musibah tersebut untuk kepentingan tertentu yang justru dapat memperkeruh keadaan.
Menurut Chandra, suasana duka semestinya dihormati dengan mengedepankan empati, ketenangan, dan penghormatan terhadap keluarga korban.
Jika terdapat persoalan yang membutuhkan pertanggungjawaban, kata dia, penyelesaiannya harus ditempuh melalui mekanisme hukum, bukan dengan cara-cara yang berpotensi memicu konflik di tengah masyarakat.
“Yang paling penting saat ini adalah menghormati keluarga korban. Jangan sampai persoalan yang sedang ditangani justru berkembang menjadi konflik baru. Jika ada persoalan hukum, biarkan diproses sesuai ketentuan yang berlaku,” kata Chandra, Rabu (19/8/2026).
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas sumber maupun kebenarannya. Penyebaran informasi yang tidak terverifikasi, menurutnya, justru berpotensi menambah beban keluarga yang sedang berduka.
Chandra menilai semua pihak memiliki tanggung jawab menjaga situasi tetap kondusif. Pemerintah, panitia, masyarakat, maupun keluarga korban perlu mengedepankan komunikasi dan penyelesaian secara bijaksana.
Di tengah suasana duka, kabar baik datang dari keluarga Manuel Mokoginta. Istrinya, Rina Longkun, yang sebelumnya mengalami luka-luka dan menjalani perawatan di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado, dilaporkan mulai membaik dan sudah dapat berkomunikasi melalui sambungan telepon.
Rusdianto maupun Manuel juga menyampaikan apresiasi atas kepedulian Wali Kota Kotamobagu Weny Gaib dan Ketua Panitia Drag Race Lucky Sugeha kepada keluarga korban.
Keluarga kini berharap seluruh masyarakat menjaga ketenangan dan menghormati proses berduka. Mereka tidak ingin tragedi yang telah merenggut orang-orang tercinta justru berkembang menjadi persoalan baru.
Bagi keluarga korban, kehilangan memang tidak mudah dilupakan. Namun, mereka memilih melanjutkan kehidupan, mendoakan para korban, dan menyerahkan setiap persoalan kepada mekanisme yang semestinya.
Pesan keluarga dan KANNI pun bermuara pada hal yang sama: jangan biarkan duka berubah menjadi pertikaian. Saat keluarga sedang berusaha mengikhlaskan kehilangan, yang dibutuhkan bukan provokasi, melainkan empati, ketenangan, dan penghormatan.(*)
Editor : Grand Regar