Perang Rusia-Ukraina: Kiev Mengalir Bantuan, Moskow Banjir Sanksi
Kenjiro Tanos• Senin, 7 Maret 2022 | 20:20 WIB
Puing-puing akibat ledakan di ibukota Ukraina Kyiv. (Istimewa)MANADOPOST.ID - Dukungan untuk Ukraina terus mengalir. Pemerintah Lithuania memilih cara yang unik. Dia menamai jalan di depan kedutaan besar Rusia di Vilnius, Lithuania dengan nama Ukrainian Heroes Street alias Jalan Pahlawan Ukraina. Harapannya, semua orang yang menulis surat ke kedutaan itu bakal teringat dengan invasi Moskow ke Kiev. Di sisi lain, Visa dan Mastercard menyusul PayPal dengan menghentikan layanan di Rusia. Kartu yang diterbitkan oleh bank-bank Rusia tidak akan lagi didukung oleh jaringan mereka. Pun demikian dengan kartu yang diterbitkan oleh bank di luar negeri, tidak bisa dipakai di ATM di Negeri Beruang Merah. Dua perusahaan tersebut mengontrol sekitar 90 persen layanan debit dan kredit di dunia, terkecuali Tiongkok. Ini adalah pukulan tambahan setelah pekan ini beberapa bank Rusia dikeluarkan dari SWIFT. Bank Sentral Rusia bersikukuh bahwa ATM yang diterbitkan di negara tersebut masih bisa mengakses layanan Visa dan Mastercard. Namun beberapa bank besar seperti Sberbank, Alfa Bank dan Tinkoff memilih mengganti kartu nasabahnya. Mereka akan memakai sistem UnionPay milik Tiongkok digabungkan dengan jaringan Mir milik Rusia. Para miliarder Rusia juga mulai kelimpungan. Aset-aset mereka ikut dibekukan sebagai bagian dari sanksi. Mereka mencari tempat aman untuk kapal-kapal pesiarnya agar tak ikut disita. Belasan kapal pesiar itu telah tiba maupun sedang menuju negara-negara kecil di Mediterania dan Karibia. Misalnya saja Maldives dan Montenegro. Ada tiga yang terdeteksi berada di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA). Negara-negara Arab memang memilih tidak ikut campur dengan perang. Rusia harus membayar mahal atas invasi yang mereka lakukan. Merujuk penelitian yang dilakukan oleh Centre for Economic Recovery, CIVITTA dan EasyBusiness menyatakan bahwa kerugian langsung selama 4 hari pertama perang mencapai USD 7 miliar atau Rp 100,7 triliun. Saat ini ketika perang kian intensif, kerugian Rusia per hari antara USD 20 – 25 miliar (Rp 287,7 triliun- 359,7 triliun). Itu adalah biaya logistik, personel, roket yang diluncurkan dan lain sebagainya. ’’Sanksi juga menyebabkan sektor finansial di Rusia menderita kerugian parah yang sulit diperbaiki,’’ bunyi laporan penelitian tersebut seperti dikutip kator berita Anadolu. Nilai mata uang Rusia, Rubel, merosot tajam. Pasar saham di negara itu ditutup karena merugi. Hari ini (7/3), negosiasi kedua negara rencananya kembali digelar. (Jawa Pos) Editor : Kenjiro Tanos