MANADOPOST.ID - Pemantau iklim Uni Eropa mengatakan hari Senin 22 Juli 2024 adalah hari terpanas di dunia yang pernah tercatat setelah melewati suhu tertinggi pada hari Minggu 21 Juli.
Hal ini terjadi ketika sebagian besar wilayah Eropa, Asia dan Amerika Utara mengalami suhu yang sangat panas.
Layanan Perubahan Iklim Copernicus (C3S) mengatakan pada hari Rabu (24/7) bahwa suhu udara permukaan rata-rata global pada tanggal 22 Juli naik menjadi 17,15 derajat Celsius (62,9 derajat Fahrenheit) atau 0,06 derajat Celsius lebih tinggi dari rekor yang dicapai sehari sebelumnya.
C3S telah melacak pola tersebut sejak tahun 1940.
“Inilah yang menurut ilmu pengetahuan iklim akan terjadi jika dunia terus membakar batu bara, minyak, dan gas,” kata Joyce Kimutai, ilmuwan iklim dari Imperial College London, kepada kantor berita AFP.
“Dan suhu akan terus bertambah panas sampai kita berhenti menggunakan bahan bakar fosil dan mencapai emisi nol," imbuh pernyataan itu.
Rekor tersebut terakhir kali terjadi selama empat hari berturut-turut pada awal Juli 2023. Sebelumnya, hari terpanas terjadi pada Agustus 2016.
Dalam beberapa hari terakhir, kota-kota di Jepang, Indonesia, dan Tiongkok mencatat rekor suhu panas tertinggi.
Negara-negara Teluk juga mengalami suhu tinggi yang melebihi 60C (140F) jika memperhitungkan kelembapan. Sementara beberapa negara Eropa mengalami lonjakan suhu hingga 45C (113F).
Ketika dampak perubahan iklim semakin parah, pola cuaca menjadi lebih ekstrem dengan gelombang panas, kekeringan, badai yang meningkat, dan banjir yang mempengaruhi sebagian besar dunia.
Kenaikan suhu terjadi setelah Eropa mengalami gelombang panas parah tahun lalu yang menyebabkan kebakaran hutan hebat akibat pola cuaca El Nino yang menghangatkan Samudra Pasifik.
Ilmuwan iklim Karsten Haustein dari Universitas Leipzig di Jerman mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa suhu pada hari Senin mungkin telah mencetak rekor global baru untuk suhu rata-rata global absolut terpanas yang pernah ada.
Haustein menyebutnya “luar biasa” bahwa rekor tersebut telah dipecahkan karena dunia tidak lagi merasakan dampak El Nino.
Setiap bulan sejak Juni 2023 telah melampaui rekor suhunya sendiri dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun-tahun sebelumnya, rekor 13 bulan berturut-turut yang belum pernah terjadi sebelumnya yang oleh Direktur C3S Carlo Buontempo disebut benar-benar mengejutkan. (tkg)