MANADOPOST.ID - Dalam laporan terbarunya, organisasi non-pemerintah internasional Crisis Group memperingatkan bahwa eskalasi yang terjadi selama dua minggu terakhir antara Israel dan Hizbullah membawa risiko besar yang dapat memperburuk ketegangan di Timur Tengah.
Laporan ini menekankan bahwa situasi saat ini semakin mengarah pada potensi konfrontasi yang lebih luas, dengan kemungkinan respons besar-besaran dari Hizbullah terhadap serangan Israel.
"Titik kritis mungkin sudah sangat dekat di mana Hizbullah memutuskan bahwa hanya respons besar-besaran yang dapat menghentikan Israel dari melakukan serangan-serangan yang terus melemahkannya," ujar Crisis Group dalam laporannya.
Lembaga ini juga menyebut bahwa meskipun Hizbullah ingin mencegah eskalasi yang tidak terkendali, kelompok itu mungkin tidak lagi melihat adanya perbedaan yang jelas antara serangan terbatas Israel dan perang habis-habisan.
Menurut laporan tersebut, Hizbullah berada dalam posisi yang sulit. Di satu sisi, kelompok militan ini berusaha untuk tidak terlihat sebagai pihak yang mendorong konflik menjadi perang besar.
Namun, di sisi lain, mereka mungkin merasa perlu mengambil tindakan yang lebih keras untuk menghentikan Israel yang terus meningkatkan tekanan militer, terutama di wilayah perbatasan utara Lebanon dan di Gaza.
Crisis Group juga menyoroti peran Amerika Serikat dalam konflik ini, terutama dalam kaitannya dengan upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan.
Menurut laporan tersebut, tanpa adanya upaya internasional yang lebih kuat untuk mendorong gencatan senjata di Gaza, Washington memiliki opsi yang terbatas untuk menekan Israel agar menahan diri di wilayah utara.
"Dengan tidak adanya dorongan yang lebih kuat untuk gencatan senjata di Gaza, Washington hanya memiliki sedikit kartu untuk dimainkan selain menekan Israel untuk mengambil langkah mundur di wilayah utara," lanjut laporan itu.
Peringatan ini muncul di tengah ketegangan yang semakin meningkat di sepanjang perbatasan Israel-Lebanon, dengan kedua pihak terlibat dalam serangkaian baku tembak dan serangan balasan.
Selain itu, Israel telah secara signifikan memperkuat posisinya di perbatasan, sementara Hizbullah terus mengalami serangan terhadap infrastruktur komunikasinya, yang mereka tuduhkan kepada Israel.
Situasi ini semakin memperburuk ketidakstabilan di kawasan, dengan risiko bahwa konflik ini dapat meluas jika upaya diplomatik gagal membendung eskalasi.
Dengan banyak pihak yang terlibat dan kepentingan regional yang saling tumpang tindih, dunia internasional semakin khawatir akan potensi perang yang lebih luas di Timur Tengah. (tkg)
Editor : Kenjiro Tanos