MANADOPOST.ID - Ketegangan antara Israel dan Hizbullah terus meningkat seiring dengan serangan intensif yang dilancarkan oleh kedua belah pihak.
Militer Israel melaporkan telah meluncurkan total 200 serangan di wilayah Lebanon dalam kurun waktu 24 jam terakhir, sebagai bagian dari upaya mereka untuk memperluas operasi militer dan menargetkan Hizbullah secara lebih agresif.
Eskalasi terbaru ini telah memperburuk situasi yang sudah tegang di beberapa wilayah utama Lebanon, termasuk Lembah Bekaa di timur, pinggiran kota Beirut, dan wilayah selatan Lebanon.
Menurut pernyataan militer Israel, serangan ini difokuskan untuk menghancurkan infrastruktur dan posisi militer Hizbullah, yang dianggap sebagai ancaman signifikan bagi keamanan Israel.
Wilayah selatan Lebanon, tempat pasukan Israel kerap terlibat insiden dengan pasukan penjaga perdamaian PBB, menjadi salah satu fokus utama operasi ini.
Ketegangan di sana telah menciptakan tekanan diplomatik tambahan bagi PBB yang sedang berusaha menengahi gencatan senjata di kawasan tersebut.
Sebagai tanggapan atas serangan Israel, Hizbullah melancarkan serangan balasan dengan menghantam beberapa target di al-Marj, sebuah wilayah di Lebanon yang menjadi pusat operasi militer Israel.
Meskipun belum ada laporan resmi tentang korban jiwa di al-Marj, serangan ini menunjukkan bahwa Hizbullah terus meningkatkan respons militernya terhadap aksi Israel, memperluas cakupan wilayah konflik di Lebanon.
Radio Angkatan Darat Israel melaporkan bahwa Hizbullah juga meningkatkan penggunaan rudal balistik dalam konflik ini, dengan meluncurkan dua rudal permukaan-ke-permukaan yang menargetkan kota Haifa di Israel utara.
Serangan tersebut memaksa ribuan penduduk Israel di wilayah itu untuk mencari perlindungan di bunker dan tempat perlindungan darurat. Serangan ini menggarisbawahi bahaya nyata bagi warga sipil di kedua sisi perbatasan, yang terus hidup dalam ketidakpastian dan ketakutan.
Selain itu, eskalasi serangan juga berdampak di wilayah lain Lebanon. Serangan udara Israel sebelumnya menghantam kota Aitou, sebuah kota di Lebanon utara yang mayoritas penduduknya beragama Kristen.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan setidaknya 21 orang, menurut pejabat kesehatan Lebanon. Korban sipil yang tinggi di Aitou menambah daftar panjang penderitaan warga sipil yang terjebak dalam konflik ini, serta memperburuk krisis kemanusiaan di Lebanon, di mana infrastruktur penting seperti listrik, air, dan layanan kesehatan semakin terpengaruh.
Situasi di perbatasan Israel-Lebanon kini semakin tegang dengan masing-masing pihak memperkuat serangan militer mereka.
Meskipun komunitas internasional telah menyerukan agar segera dilakukan de-eskalasi, belum ada tanda-tanda penghentian kekerasan dalam waktu dekat. Hizbullah dan Israel sama-sama menunjukkan keteguhan untuk melanjutkan operasi militer, yang berarti bahwa risiko konflik berskala penuh semakin tinggi.
Komunitas internasional kini berada di persimpangan jalan, di mana tindakan diplomatik yang lebih kuat diperlukan untuk mencegah lebih banyak korban jiwa dan menghentikan kerusakan yang lebih besar di wilayah tersebut.
Dengan intensifikasi serangan di Lebanon dan penggunaan rudal balistik oleh Hizbullah, konflik ini berpotensi meluas ke wilayah yang lebih luas, menimbulkan ancaman bagi stabilitas regional secara keseluruhan.
Situasi ini menyoroti urgensi bagi para pemimpin dunia untuk segera bertindak dalam upaya diplomatik guna mencegah eskalasi lebih lanjut, terutama dalam melindungi warga sipil di kedua belah pihak yang kini menjadi korban dari konflik berkepanjangan ini. (tkg)
Editor : Kenjiro Tanos