MANADOPOST.ID - Donald Trump kembali melontarkan kritik keras terhadap Hamas setelah serangan 7 Oktober 2023, yang menyasar desa-desa dan pos-pos militer di Israel selatan.
Serangan tersebut menewaskan 1.139 orang, sementara 251 lainnya ditangkap. Kekerasan ini memicu respons Israel yang menyulut perang di Gaza, dan Trump secara vokal menunjukkan dukungan bagi Israel serta sedikit menunjukkan simpati terhadap penderitaan warga Gaza.
Lebih dari 43.000 warga Palestina di wilayah Gaza yang terkepung telah menjadi korban tewas dalam perang sepanjang tahun lalu, dan konflik ini menjadi perhatian dunia.
Pada pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada bulan Juli, Trump mendorong agar Israel segera "meraih kemenangannya" melawan Hamas.
Meski Trump menyebutkan bahwa “pembunuhan di Gaza harus dihentikan,” ia menegaskan kepercayaannya pada Netanyahu yang ia nilai “tahu apa yang dia lakukan.”
Pernyataan ini konsisten dengan kebijakan Trump selama masa kepresidenannya, termasuk pengakuan kota Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada tahun 2017, yang sebelumnya dianggap statusnya dipersengketakan. Langkah ini memicu kemarahan di antara warga Palestina namun didukung penuh oleh Israel.
Sebagai presiden, Trump mengawali upaya normalisasi hubungan diplomatik antara Israel dan sejumlah negara Arab melalui Perjanjian Abraham, menandai fase baru dalam geopolitik Timur Tengah. Langkah ini juga disertai oleh penarikan AS dari kesepakatan nuklir Iran, yang mendapat dukungan dari Israel tetapi memicu kontroversi di kawasan.
Namun, di balik kedekatan ini, terdapat ketegangan yang kadang-kadang terlihat antara Trump dan Netanyahu, terutama terkait Rencana Perdamaian Trump tahun 2020.
Rencana tersebut mencakup gagasan untuk solusi dua negara dengan ibukota Palestina di Yerusalem Timur, yang ditolak mentah-mentah oleh Palestina karena dianggap terlalu menguntungkan Israel.
Ketika Netanyahu mengambil kesempatan untuk menyatakan aneksasi atas sebagian wilayah Tepi Barat, Trump merasa dikhianati dan menyebut tindakannya “sangat keterlaluan.”
Menjelang pemilihan presiden 2024, Trump berusaha menarik dukungan dari populasi pemilih Arab Amerika, terutama di Michigan, negara bagian kunci dalam peta pemilu AS.
Dalam kampanyenya, ia berjanji untuk membawa perdamaian bagi Timur Tengah, dengan nada yang terdengar lebih damai daripada retorikanya terkait Israel.
Trump menyatakan, “Teman dan keluarga Anda di Lebanon berhak hidup dalam damai, sejahtera, dan harmonis dengan tetangga mereka, dan itu hanya dapat terjadi dengan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah,” katanya dalam unggahan di X (dulu Twitter). Namun, dalam pesan tersebut, ia tidak menyebutkan konflik yang sedang berlangsung di Gaza atau Israel secara eksplisit.
Dengan posisinya yang menekankan stabilitas dan hubungan erat dengan Israel, retorika Trump kali ini mencerminkan perpaduan antara kepentingan geopolitik dan strategi elektoral untuk meraih pemilih Arab Amerika. (tkg)