MANADOPOST.ID--Perang Irak-Iran (1980-1988) adalah salah satu konflik paling brutal di abad ke-20. Perang ini berlangsung selama delapan tahun dan menewaskan lebih dari satu juta orang di kedua belah pihak.
Tetapi, apa sebenarnya yang menyebabkan perang panjang ini? Mengapa Irak yang dipimpin Saddam Hussein memutuskan untuk menyerang Iran?.
Sejak lama, Irak dan Iran memiliki hubungan yang penuh ketegangan. Salah satu akar konfliknya adalah perbedaan etnis dan agama. Iran didominasi oleh etnis Persia dengan mayoritas penduduk Muslim Syiah.
Irak mayoritas beretnis Arab, meskipun juga memiliki populasi Syiah yang besar, tetapi dikuasai oleh pemerintahan Sunni di bawah Saddam Hussein.
Ketegangan ini diperparah oleh ambisi Saddam yang ingin menjadi pemimpin dunia Arab dan menantang pengaruh Iran di kawasan.
Pada tahun 1979, Iran mengalami revolusi besar-besaran yang menggulingkan Shah Iran (Raja Iran) dan membawa Ayatollah Khomeini berkuasa.
Revolusi ini membuat Iran berubah menjadi negara Republik Islam, yang dipimpin oleh ulama Syiah dengan ideologi anti-Barat dan anti-monarki.
Khomeini menyerukan ekspor revolusi ke negara-negara Muslim lainnya, termasuk Irak. Hal ini membuat Saddam ketakutan karena
Mayoritas penduduk Irak adalah Muslim Syiah, yang bisa saja terinspirasi oleh Revolusi Iran untuk melawan pemerintahan Saddam yang Sunni.
Iran mendukung kelompok oposisi di Irak, termasuk kaum Syiah dan Kurdi, untuk menggulingkan Saddam.
Karena takut pengaruh revolusi Iran menyebar ke Irak, Saddam memutuskan untuk mengambil langkah preventif dengan menyerang Iran terlebih dahulu.
Salah satu penyebab langsung perang adalah sengketa wilayah perbatasan, terutama di kawasan Shatt al-Arab. Jalur air strategis yang menjadi muara Sungai Tigris dan Eufrat sebelum mengalir ke Teluk Persia.
Pada tahun 1975, Irak dan Iran menandatangani Perjanjian Algiers, yang mengatur batas wilayah di sepanjang Shatt al-Arab. Namun, Saddam Hussein menganggap perjanjian itu merugikan Irak dan ingin merebut kembali wilayah yang diklaimnya.
Dengan menyerang Iran, Saddam berharap bisa mengontrol Shatt al-Arab dan mendapatkan keuntungan strategis di kawasan tersebut.
Perang ini juga tidak bisa dilepaskan dari permainan geopolitik internasional. Setelah Revolusi Iran, hubungan Iran dengan negara-negara Barat memburuk, terutama setelah kasus penyanderaan di Kedutaan Besar AS di Teheran pada 1979.
Saddam Hussein sangat percaya diri bahwa perang ini akan berakhir dengan cepat. Ia berpikir bahwa Iran masih lemah setelah revolusi dan mengalami kekacauan internal. Ia juga berharap bahwa banyak etnis Arab di Iran akan membelot dan mendukung Irak.
Pada 22 September 1980, Irak memulai invasi besar-besaran ke Iran, dengan harapan bisa merebut wilayah Iran dalam waktu singkat. Namun, perhitungan Saddam salah besar.
Iran, di bawah kepemimpinan Ayatollah Khomeini, memberikan perlawanan sengit. Dengan semangat revolusi dan jihad, Iran berhasil bertahan dan bahkan melancarkan serangan balik ke Irak, sehingga perang yang awalnya diperkirakan berlangsung cepat berubah menjadi konflik berkepanjangan selama delapan tahun.
Perang Irak-Iran dipicu oleh kombinasi permusuhan historis, perbedaan ideologi, sengketa wilayah, serta permainan geopolitik internasional. Saddam Hussein mengira bisa memenangkan perang dengan mudah, tetapi ternyata Iran memberikan perlawanan sengit.
Konflik ini berakhir pada 1988 dengan gencatan senjata yang ditengahi oleh PBB, tetapi tanpa ada pemenang yang jelas. Kedua negara mengalami kerugian besar, baik secara ekonomi maupun kemanusiaan, dan dampaknya masih terasa hingga hari ini. (*)
Editor : Clavel Lukas