Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Charlemagne, Kisah Raja bertubuh Besar yang Dikenal Sebagai 'Bapak Eropa'

Fandy Gerungan • Jumat, 21 Maret 2025 | 18:20 WIB
Charlemagne. (Wikipedia)
Charlemagne. (Wikipedia)

MANADOPOST.ID--Pernah dengar nama Charlemagne? Atau mungkin lebih akrab dengan nama Carolus Magnus?. Dia berhasil menyatukan hampir seluruh Eropa Barat di zamannya. Tokoh legendaris dari abad ke-8 yang punya visi jauh lebih luas daripada sekadar berperang dan duduk manis di singgasana.

Orang-orang kadang menganggap sejarah itu membosankan. Tapi kalau kita tarik benang cerita dari hidup Charlemagne, rasanya kayak nonton serial epik zaman dulu—komplit dengan drama kekuasaan, perebutan wilayah, strategi politik, dan bahkan soal-soal keluarga yang bikin dahi berkerut.

Charlemagne awalnya cuma raja dari orang-orang Franka, suku Jermanik yang waktu itu hidup di daerah yang sekarang kita kenal sebagai Prancis dan Jerman. Tapi mimpi Charlemagne sangat besar.

Dia tidak puas cuma jadi penguasa lokal. Jadi, pelan-pelan, dia mulai ekspansi wilayah. Bukan cuma lewat perang, tapi juga diplomasi dan aliansi (dan kadang nikah politik, kalau perlu).

Satu hal yang bikin dia unik: dia bukan cuma tukang perang. Walau terkenal sebagai jenderal ulung, Charlemagne juga peduli banget sama pendidikan. Ironisnya, dia sendiri kabarnya buta huruf cukup lama dalam hidupnya.

Tapi justru karena itu, dia sadar pentingnya literasi dan budaya. Di masa pemerintahannya, lahirlah yang disebut "Renaisans Karoling", semacam kebangkitan ilmu dan seni di Eropa yang lama mati suri setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi.

Tahun 800, di malam Natal, Charlemagne dinobatkan sebagai "Kaisar Romawi Suci" oleh Paus Leo III di Basilika Santo Petrus. Ini bukan cuma acara seremoni doang—ini simbol. Paus mengakui bahwa Charlemagne adalah pelindung utama Kristen di Eropa, dan bahwa kekuasaan Charlemagne bahkan lebih kuat dari kaisar Bizantium di timur sana.

Tapi di balik semua kejayaan itu, Charlemagne juga manusia biasa. Ia punya banyak anak—dan nggak semuanya dari satu istri. Beberapa anaknya dia sekolahkan, beberapa lainnya dia beri wilayah, tapi tetap saja, setelah dia wafat, kerajaan raksasanya akhirnya terpecah belah.

Mungkin wilayah kekuasaannya sudah lama bubar. Tapi jejak Charlemagne masih terasa banget sampai sekarang. Eropa modern, dalam banyak hal, lahir dari benih-benih yang dia tanam. Uni Eropa aja sering nyebut dia sebagai "Bapak Eropa".

Bahkan dalam budaya pop, namanya masih muncul. Di video game, buku, film, bahkan lagu. Saking legendarisnya, orang kadang susah ngebedain mana fakta, mana mitos. Tapi ya, begitulah nasib tokoh besar: hidupnya terlalu besar untuk sekadar ditulis di buku sejarah sekolah. (*)

Editor : Clavel Lukas
#Charlemagne