Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Maria Antoinette, Ratu Prancis yang Cantik, Kontroversial, dan Tragis

Fandy Gerungan • Sabtu, 22 Maret 2025 | 13:55 WIB
Maria Antoinette. (Bing)
Maria Antoinette. (Bing)

MANADOPOST.ID--“Kalau mereka tidak punya roti, beri saja kue”. Kalimat ini melekat kuat pada sosok ratu yang dikenal karena kemewahan hidupnya, namun benarkah ia yg mengatakannya?.

Maria Antoinette adalah ratu yang dielu-elukan karena kecantikannya, dibenci karena gaya hidupnya, dan akhirnya dihukum mati oleh rakyatnya sendiri.

Dia lahir pada tahun 1755 sebagai putri Kaisar Austria. Di usia 14 tahun, ia dinikahkan dengan Louis XVI, calon Raja Prancis, sebagai bagian dari aliansi politik.

Bayangkan, seorang remaja yang belum matang harus pindah ke negeri asing dan langsung menjadi sorotan publik.

Setelah menjadi Ratu Prancis, Maria menikmati hidup yang penuh pesta, mode mewah, dan hiburan di Istana Versailles. Ia terkenal dengan gaya berpakaian yang spektakuler.

Rambut yang menjulang tinggi, dan selera mode yang menjadi trendsetter di kalangan bangsawan. Sayangnya, semua ini terjadi di saat rakyat Prancis menderita kelaparan dan kemiskinan.

Kalimat legendaris "Let them eat cake" (Qu’ils mangent de la brioche) sering dikaitkan dengannya, seolah menggambarkan betapa tidak pedulinya sang ratu pada penderitaan rakyat.

Namun, sejarawan sepakat bahwa Maria Antoinette kemungkinan besar tidak pernah mengucapkan kalimat itu. Kalimat ini digunakan untuk membangun citra negatif tentang dirinya di mata publik.

Saat Revolusi Prancis meletus, Maria dan Louis mencoba kabur dari Prancis tapi gagal. Mereka ditangkap dan dijadikan tahanan.

Suaminya dihukum mati lebih dulu, dan Maria menyusul beberapa bulan kemudian. Ia dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan rakyat dan dieksekusi dengan guillotine pada 16 Oktober 1793, dalam usia 37 tahun.

Hingga kini, nama Maria Antoinette terus menimbulkan perdebatan. Apakah ia simbol keangkuhan kerajaan yang buta terhadap penderitaan rakyat, atau hanya seorang wanita muda yang terjebak dalam sistem yang lebih besar dari dirinya?.

Banyak sejarawan modern mulai melihatnya sebagai korban keadaan—seorang ratu tanpa kuasa yang dijadikan kambing hitam dari amarah rakyat.

Maria Antoinette bukan sekadar tokoh sejarah—ia adalah simbol. Simbol dari kemewahan yang menjauh dari realita rakyat.

Tapi juga simbol dari betapa kejamnya sejarah bisa menilai seseorang. Di balik kisah tragisnya, kita diingatkan bahwa kekuasaan tanpa empati akan selalu berakhir tragis. (*)

Editor : Clavel Lukas
#ratu prancis #Maria Antoinette