MANADOPOST.ID - Inggris kembali mengerahkan kekuatan militernya dalam sebuah operasi udara besar-besaran bersama Amerika Serikat terhadap kelompok Houthi di Yaman, Selasa lalu (29/4).
Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan bahwa pesawat tempur Typhoon FGR4 milik Angkatan Udara Kerajaan, dengan dukungan pesawat tanker Voyager untuk pengisian bahan bakar di udara, meluncurkan serangan terhadap serangkaian bangunan yang digunakan oleh Houthi sebagai fasilitas produksi pesawat nirawak atau drone. Serangan itu menargetkan lokasi strategis di sekitar ibu kota Yaman, Sanaa.
Bangunan-bangunan tersebut diduga menjadi pusat penting dalam jaringan militer Houthi, yang selama ini dituding bertanggung jawab atas peluncuran drone dan rudal terhadap kapal-kapal dagang internasional, khususnya yang memiliki keterkaitan dengan Israel.
Meski Kementerian Pertahanan Inggris merinci keterlibatannya dalam operasi ini, pihak militer Amerika Serikat hingga saat ini belum memberikan pernyataan resmi terkait keterlibatannya.
Sementara itu, stasiun televisi Al Masirah yang dikelola oleh Houthi melaporkan bahwa serangkaian serangan udara mengguncang beberapa wilayah di provinsi Sanaa, termasuk distrik Bani Matar, Bani Hashish, Al Husn, dan Hamdan.
Dalam laporannya, disebutkan bahwa sejumlah rumah warga di kawasan pemukiman Al Dalia, distrik Bani Hashish, mengalami kerusakan akibat gelombang serangan tersebut. Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa atau luka-luka dari serangan itu.
Serangan terbaru ini terjadi di tengah eskalasi militer yang terus meningkat di kawasan tersebut. Amerika Serikat diketahui telah menggempur posisi-posisi Houthi hampir setiap hari selama sebulan terakhir.
Intensitas operasi militer ini meningkat sejak kelompok Houthi, yang menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman, menyatakan ancaman untuk kembali menyerang kapal-kapal yang diduga memiliki hubungan dengan Israel di perairan Laut Merah.
Serangan-serangan tersebut menambah kekhawatiran komunitas internasional terhadap stabilitas jalur pelayaran strategis di kawasan tersebut.
Operasi gabungan Inggris dan AS menunjukkan sinyal bahwa negara-negara Barat kian serius menanggapi ancaman Houthi terhadap keamanan maritim global, sekaligus mempertegas posisi mereka dalam konflik yang membelit Timur Tengah.
Seiring meningkatnya kekerasan di Yaman, perhatian kini tertuju pada respons berikutnya dari kelompok Houthi serta dampaknya terhadap dinamika geopolitik di wilayah yang telah lama dilanda ketegangan ini. (tkg)
Editor : Kenjiro Tanos