Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Khamenei Tegaskan Iran Tak Akan Hentikan Pengayaan Uranium, Tolak Proposal Amerika Serikat

Kenjiro Tanos • Rabu, 4 Juni 2025 | 21:34 WIB
Khamenei menyampaikan pidato kunci pada hari Rabu saat AS dan Iran terus merundingkan rincian kemungkinan kesepakatan nuklir baru (West Asia News Agency/Handout via Reuters)
Khamenei menyampaikan pidato kunci pada hari Rabu saat AS dan Iran terus merundingkan rincian kemungkinan kesepakatan nuklir baru (West Asia News Agency/Handout via Reuters)

MANADOPOST.ID — Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan bahwa Iran tidak akan menghentikan pengayaan uraniumnya, menolak salah satu tuntutan utama dalam proposal terbaru Amerika Serikat yang bertujuan mengakhiri ketegangan berkepanjangan terkait program nuklir negara itu.

Pernyataan tersebut disampaikan Khamenei dalam pidato pada Rabu (3/6), bertepatan dengan peringatan wafatnya pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini. Dalam pidatonya, Khamenei menyebut tuntutan Washington bertentangan dengan prinsip kemandirian nasional dan semangat revolusi Islam 1979.

“Proposal nuklir AS bertentangan dengan keyakinan bangsa kita pada kemandirian dan prinsip ‘Kita Bisa’,” kata Khamenei. “Kemerdekaan berarti tidak menunggu lampu hijau dari Amerika dan negara-negara sejenisnya.”

Ia menegaskan bahwa Iran tidak membutuhkan izin dari Amerika Serikat untuk menentukan kebijakan energi dan teknologinya. “Sebagian orang berpikir bahwa rasionalitas berarti tunduk kepada Amerika dan menyerah kepada kekuatan yang menindas. Ini bukan rasionalitas,” ujarnya.

Khamenei menyatakan pengayaan uranium merupakan bagian dari strategi Iran untuk mencapai kemandirian energi dan menolak campur tangan asing dalam urusan dalam negeri. “Mengapa Anda ikut campur dalam urusan apakah Iran harus melakukan pengayaan atau tidak? Anda tidak boleh ikut campur,” tambahnya.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Selasa (2/6) juga menyampaikan penolakan terhadap tekanan internasional. Ia menyatakan bahwa Iran tidak akan mengabaikan hak ilmiah dan teknologinya, sembari menegaskan bahwa Teheran tidak mengembangkan senjata nuklir.

“Iran tidak menyebarkan senjata pemusnah massal, dan kami tidak akan membahayakan stabilitas kawasan dengan senjata-senjata mematikan,” kata Pezeshkian.

Pada Senin (1/6), kantor berita Reuters mengutip seorang diplomat anonim yang mengatakan bahwa Teheran siap menolak proposal terbaru dari AS. Diplomat tersebut menyebut usulan itu “tidak dapat diterima” karena gagal meredakan tuntutan Washington terkait pengayaan uranium dan tidak mengakomodasi kepentingan Iran.

Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, tetap memegang sikap tegas terhadap program nuklir Iran. Utusan AS Steve Witkoff menyatakan bahwa segala bentuk pengayaan uranium oleh Iran merupakan “garis merah” bagi Washington.

Sementara itu, laporan terbaru dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) menyebutkan bahwa Iran telah meningkatkan produksi uranium yang diperkaya mendekati tingkat senjata, sekitar 50 persen, dalam tiga bulan terakhir. Namun, tingkat tersebut masih di bawah ambang 90 persen yang dibutuhkan untuk senjata nuklir.

Iran membantah laporan tersebut dan menyebutnya sebagai “bermotif politik” serta penuh dengan “tuduhan tidak berdasar”. Teheran bersikeras bahwa program nuklirnya bertujuan damai, khususnya untuk produksi energi dan riset ilmiah. (tkg)

Editor : Kenjiro Tanos
#Amerika Serikat #iran #uranium #Teheran