MANADOPOST.ID - Di tengah langit Gaza yang masih diselimuti kepulan asap dan aroma mesiu, ribuan warga Palestina menjalani Idul Adha dalam kesedihan yang mendalam.
Bagi banyak keluarga, terutama para ibu yang kehilangan anak-anak mereka akibat perang yang berkepanjangan, hari suci ini tak lagi bermakna sebagai perayaan, melainkan sebagai pengingat pilu akan kehilangan.
Hari Raya Kurban yang kedua sejak perang pecah kembali menjadi “siksaan”, demikian digambarkan Umm Ahmad Awida, seorang ibu yang duduk diam di samping makam putrinya yang gugur.
Ia mengenakan pakaian hitam polos, dengan mata sembab karena tangis yang tak kunjung kering.
“Kami merayakan Idul Adha untuk tahun kedua berturut-turut, di bawah bom, pemogokan, kematian, pengepungan, dan kelaparan. Segala bentuk penyiksaan bagi manusia,” ucapnya dengan suara lirih kepada Reuters.
Bagi Awida, Idul Adha bukan lagi hari untuk berkumpul dan bersyukur, melainkan hari untuk mengenang dan mendoakan.
Ia mengatakan telah kehilangan bukan hanya anak, tetapi juga rumah, masa depan, dan rasa aman.
“Kami telah berkorban banyak untuk anak-anak kami. Kami kehilangan rumah dan diri kami sendiri. Tidak ada yang tersisa,” lanjutnya dengan tatapan kosong ke gundukan tanah di hadapannya.
Di sudut lain pemakaman, Suher Shekfa, seorang ibu enam anak, berlutut di makam putranya, Abdul Salam.
Anak keempatnya itu meninggal dalam serangan udara tahun lalu. Suher menggenggam tanah dengan tangan gemetar, berusaha menguatkan diri di tengah rasa kehilangan yang nyaris melumpuhkan.
“Sejak ia tiada, saya merasa tidak memiliki anak lagi. Senyum di rumah telah hilang,” katanya perlahan, seolah kata-kata itu sendiri terlalu berat untuk diucapkan.
Perayaan Idul Adha di Gaza tahun ini berjalan di tengah reruntuhan.
Masjid-masjid yang masih berdiri mengumandangkan takbir dengan pengeras suara seadanya, sementara daging kurban dibagikan secara terbatas, dengan logistik yang semakin sulit masuk akibat blokade yang terus diperketat.
Di kamp-kamp pengungsian, tenda-tenda kecil menjadi tempat berlindung sekaligus ruang berduka.
Anak-anak yang masih hidup tak bisa lagi bermain bebas seperti dulu. Sebagian dari mereka kini yatim, sebagian lainnya menderita luka fisik dan trauma yang dalam.
Banyak warga mengaku merayakan Idul Adha hanya sebagai bentuk pengingat akan pengorbanan, bukan sebagai pesta keagamaan.
Di antara tumpukan puing dan batu, para ibu Palestina mendekap foto anak-anak mereka, mengenang suara tawa yang tak akan kembali, dan berdoa dalam keheningan yang semakin pekat.
Dalam perang yang belum menunjukkan tanda akan usai, Hari Raya Kurban bagi banyak keluarga di Gaza menjadi pengingat yang menyakitkan: tentang apa yang telah hilang, dan tentang rasa cinta yang terus hidup di tengah kehancuran. (tkg)
Editor : Kenjiro Tanos