MANADOPOST.ID — Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menghindari menjawab secara langsung pertanyaan sensitif terkait kemungkinan serangan militer terhadap Iran.
Dalam sidang dengar pendapat di hadapan Komite Angkatan Bersenjata Senat, Hegseth ditanyai tentang apakah dirinya pernah menyarankan kepada mantan Presiden Donald Trump opsi untuk menyerang Iran.
Alih-alih menjawab secara eksplisit, Hegseth memilih bersikap hati-hati.
“Saya tidak akan membahas atau mengonfirmasi diskusi-diskusi terkait opsi militer dalam forum publik seperti ini,” ujarnya.
Namun ia menambahkan, “Jika dan ketika keputusan tersebut dibuat, apakah menyangkut perang atau perdamaian, Departemen Pertahanan siap untuk melaksanakannya.”
Pernyataan ini mencerminkan pendekatan strategis yang tengah diambil Pentagon di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran.
Meski tidak ada pengumuman resmi tentang rencana militer, sikap “siap sedia” dari Departemen Pertahanan menunjukkan bahwa AS tidak menutup kemungkinan konfrontasi terbuka di masa depan.
Isu Iran kembali mencuat dalam politik luar negeri AS sejak meningkatnya retorika dari kedua belah pihak.
Iran baru-baru ini mengecam keras Donald Trump, yang mengklaim pejabat Iran pernah mendekatinya untuk mengatur pertemuan di Gedung Putih.
Iran membantah keras tudingan itu dan menyebut Trump sebagai “penghasut perang” yang tak layak dijadikan mitra diplomasi.
Dalam konteks tersebut, pernyataan Hegseth—yang sebelumnya dikenal sebagai komentator konservatif dan kini menjabat sebagai kepala Pentagon—mengindikasikan bahwa Amerika tetap menjaga opsi militer sebagai bagian dari strategi tekanan terhadap Iran, meski belum tentu dipilih sebagai jalur utama.
Sejumlah senator dari Partai Demokrat dan Republik meminta penjelasan lebih lanjut terkait kesiapan militer AS dan parameter yang akan digunakan untuk menentukan aksi militer terhadap negara di Timur Tengah tersebut.
Namun Hegseth tetap menolak untuk membuka rincian kebijakan pertahanan dalam forum terbuka.
“Apa pun langkah yang diambil Presiden dan Kongres, kami sebagai bagian dari aparat pertahanan negara ini akan melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab dan kesiapan penuh,” pungkas Hegseth.
Sikap hati-hati ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan global, termasuk di Laut Merah dan kawasan Teluk, serta ketidakpastian atas kebijakan luar negeri AS menjelang pemilu 2024.
Meskipun saat ini tidak ada konflik terbuka antara AS dan Iran, bahasa yang digunakan oleh kedua pihak menandakan potensi eskalasi, terutama jika diplomasi gagal membuka jalan damai. (tkg)
Editor : Kenjiro Tanos