Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Meski Gereja Tergenang Banjir, Pasangan Ini Tetap Menikah dan Buktikan Cinta Tak Terhalang Bencana

Kenjiro Tanos • Kamis, 24 Juli 2025 | 17:35 WIB

 

Pasangan di Filipina tetap melangsungkan pernikahan di gereja walaupun diterjang banjir
Pasangan di Filipina tetap melangsungkan pernikahan di gereja walaupun diterjang banjir

MANADOPOST.ID – Pemandangan ini mungkin terdengar seperti adegan dalam film romantis.

Seorang pengantin wanita berjalan perlahan menyusuri lorong gereja dengan gaun putih dan veil panjang menyapu lantai, menggandeng erat lengan sang ayah.

Tapi ada satu hal yang tak biasa: gereja tempat ia melangsungkan pernikahan itu tergenang air hampir setinggi lutut.

Jamaica Aguilar dan pasangannya, Jade Rick Verdillo, tetap melangsungkan pernikahan mereka di Gereja Barasoain yang bersejarah, di utara Manila, meski banjir besar melanda akibat kombinasi musim hujan dan topan.

Video momen mengharukan mereka viral di media sosial, memancing kekaguman banyak orang dan dianggap sebagai simbol ketangguhan khas rakyat Filipina.

“Ini memang menantang, tapi kami memilih fokus pada hal yang paling penting: cinta dan orang-orang yang kami sayangi,” ujar Jade, sang mempelai pria, yang mengaku tetap bahagia meski upacara mereka berlangsung di tengah air yang menggenang.

Namun kisah ini bukan yang pertama. Dua tahun lalu, sepasang pengantin lain juga menikah di gereja yang sama saat terendam banjir.

Bahkan pada 2018, pernikahan serupa terjadi di provinsi Bulacan, hanya beberapa kilometer dari Barasoain.

Fenomena ini bukan hanya soal tekad untuk tetap menikah di tengah bencana, tapi juga menyoroti masalah banjir kronis yang terus menghantui jutaan warga Filipina.

Permasalahan banjir di Filipina diperparah oleh sistem drainase yang buruk, tata kota yang tidak tertata, dan semakin ekstremnya cuaca akibat perubahan iklim.

Musim topan datang makin sering dan membawa hujan yang tak terkendali.

Bagi Jamaica, keputusan tersulit justru datang malam sebelum pernikahan. Ramalan cuaca memperingatkan hujan deras akan terus mengguyur.

“Saya sempat berpikir untuk membatalkan. Rasanya 50:50. Tapi akhirnya kami memilih lanjut, karena kami ingin menghargai momen ini bersama orang-orang tercinta,” ujarnya kepada BBC.

Usai mengucap janji suci, langkah pertama mereka sebagai suami-istri bukanlah bulan madu—melainkan meminum antibiotik doxycycline dari pusat kesehatan setempat, untuk mencegah penyakit akibat banjir seperti leptospirosis, yang menyerang hati.

Beberapa jam setelah pernikahan, gereja yang sama menggelar upacara pemakaman. Peti mati putih diletakkan di atas kayu penyangga agar tak terendam air di altar.

Ironi yang tajam dari kehidupan dan kematian, semua di bawah atap yang sama, dalam air yang sama.

Topan Wipha, atau Crising dalam bahasa lokal, adalah badai ketiga yang melanda Filipina tahun ini.

Sekitar 20 topan terbentuk setiap tahun di wilayah Pasifik, dan separuhnya menghantam Filipina secara langsung.

Enam orang dilaporkan tewas sejak hujan deras mengguyur akhir pekan lalu, sementara puluhan ribu warga mengungsi. (tkg)

Editor : Kenjiro Tanos
#pernikahan banjir #pernikahan #Gereja #Filipina