MANADOPOST.ID - Kompetisi bergengsi Lee Kuan Yew Global Business Plan Competition (LKYGBPC) ke-12 resmi berakhir pada 2 Oktober 2025. Ajang yang digelar di Singapore Management University (SMU) ini mencatat rekor baru, dengan lebih dari 1.500 aplikasi dari 91 negara.
Dalam babak Grand Final, dua startup mencuri perhatian dunia. ChemT Biotechnology meraih Chancellor’s Cup for Beta Innovation, sementara Zhejiang Polar Code Technology memenangkan Chancellor’s Cup for Infinity Impact untuk kategori tahap awal berpendapatan.
Tahun ini, SMU juga memperkenalkan akselerator deep-tech terbaru bertajuk Urban Sustainnovator. Program ini menjadi jembatan bagi startup peserta untuk memperluas skala bisnis sekaligus mengomersialisasikan inovasi berkelanjutan di bidang urban dan teknologi hijau.
Dalam sambutan penutupan, Mr. Heng Swee Keat, Ketua National Research Foundation, menegaskan kembali komitmen Singapura sebagai pusat inovasi global. Ia juga mengapresiasi SMU atas penyelenggaraan ajang yang dinilai berhasil mempertemukan inovator muda dari berbagai negara.
Sentuhan Indonesia di Ajang Dunia
Tak hanya didominasi peserta internasional, ajang ini juga menampilkan startup dengan sentuhan Indonesia yang menarik perhatian juri — Qarbotech dan Oculab.
Qarbotech, perusahaan rintisan bioteknologi asal Malaysia dengan perwakilan Indonesia, menghadirkan inovasi QarboGrow — biostimulan berbasis nanomaterial dari limbah pertanian. Teknologi ini menggunakan carbon quantum dots (CQD) untuk meningkatkan fotosintesis tanaman, menghasilkan panen lebih tinggi hingga 60 persen, serta menekan emisi karbon dari sektor pertanian.
Sejak 2022, Qarbotech telah melakukan uji lapangan di berbagai negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Vietnam, Pakistan, dan Zambia. Di Indonesia, perusahaan yang diwakili Erlambang Haji itu tengah memperluas kemitraan dengan lembaga riset dan kelompok tani untuk komoditas padi, cabai, dan kopi.
Sementara itu, Oculab adalah aplikasi bertenaga kecerdasan buatan (AI) karya Bunga Aura Prameswari, asal Indonesia. Aplikasi ini mampu menganalisis hasil mikroskopis pada tes tuberkulosis (TB) dengan akurasi 87 persen, sekaligus memangkas waktu pemeriksaan dari 40 menit menjadi sekitar 10 menit.
Sistem kerja Oculab cukup sederhana: smartphone dihubungkan ke mikroskop melalui adaptor, merekam video pemeriksaan, lalu hasil deteksi diolah otomatis oleh AI. Meski berbasis otomatisasi, teknisi laboratorium tetap memegang keputusan akhir atas hasil pemeriksaan.
Teknologi ini dinilai relevan dengan situasi Indonesia, mengingat negara ini masih menghadapi krisis TB dengan sekitar 17 kematian per jam dari satu juta kasus pada 2024.
Pintu Terbuka untuk Generasi Muda
Melanjutkan semangat kompetisi global, SMU juga mengumumkan Global Immersion Competition 2025. Ajang ini terbuka bagi peserta berusia minimal 14 tahun dengan kemampuan bahasa Inggris setara skor 7.5. Kuota hanya 40 peserta terbaik yang akan dipilih untuk mengikuti program ini di Singapura.
Kehadiran startup dengan sentuhan Indonesia di ajang internasional ini menunjukkan potensi besar generasi muda Tanah Air di kancah inovasi global. Tak sekadar berkompetisi, mereka juga membawa solusi nyata di bidang pertanian berkelanjutan dan kesehatan publik. (*)
Editor : Jasinta Bolang