Lacroix mengungkapkan bahwa 2 orang prajurit TNI yang bertugas sebagai penjaga perdamaian meninggal dunia pada hari yang sama ketika sebuah ledakan menghantam konvoi logistik UNIFIL di dekat Bani Hayyan di Sektor Timur. Tidak hanya itu, 2 korban lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. Insiden itu terjadi pada Senin (30/3), persis sehari setelah 1 orang prajurit TNI gugur pada Minggu (29/3). ”Kami mengutuk keras insiden-insiden yang tidak dapat diterima ini. Penjaga perdamaian tidak boleh pernah menjadi sasaran,” kata dia.
Menurut Lacroix, UNIFIL kini tengah melakukan investigasi untuk mencari tahu penyebab insiden tersebut. Dia juga mendorong agar segala tindakan yang membahayakan pasukan penjaga perdamaian harus dihentikan. Dia menyatakan bahwa pasukan penjaga perdamaian tetap berada di lapangan untuk menjalankan tugas dari PBB. Bahkan di tengah kondisi yang sangat berbahaya.
"Para penjaga perdamaian kami tetap berada di lapangan, menjalankan tugas yang diamanatkan oleh Dewan Keamanan, dalam kondisi yang sangat berbahaya ini,” ujarnya.
PBB melihat telah terjadi pelanggaran resolusi 1701 dalam insiden yang menyebabkan 3 prajurit TNI gugur dalam tugas. Bukan hanya satu, Lacroix menyatakan bahwa terjadi beberapa pelanggaran atas resolusi tersebut. Mengingat eskalasi konflik antara Israel dengan Hizbullah melintasi blue line atau garis biru yang telah ditetapkan oleh PBB.
”Kami melihat berbagai pelanggaran terhadap resolusi 1701. Tidak ada solusi militer. Yang dibutuhkan adalah solusi politik. Kerangka untuk solusi politik sudah ada, yaitu resolusi 1701, yang sejauh yang kami dengar, masih menjadi komitmen semua pihak,” tegasnya.
Lebih lanjut, Lacroix menyampaikan bahwa pihaknya kini terus berkomunikasi secara intens dengan Indonesia dan berkoordinasi dengan IDF atau tentara Israel. Dia pun menegaskan seruan sekjen PBB kepada semua pihak untuk menghentikan pertempuran dan mendorong implementasi penuh resolusi Dewan Keamanan PBB 1701.
Editor : Grand Regar