MANADOPOST.ID— Suhu di Eropa mencatat rekor baru pada musim panas tahun ini, dengan gelombang panas yang datang lebih awal memicu gelombang penyakit, lonjakan kematian, hingga gangguan infrastruktur. Pada Minggu (28/6/2026), suhu di beberapa wilayah benua itu, termasuk Jerman, Republik Ceko, dan Polandia, mencapai 40 derajat Celsius. Di Prancis, otoritas kesehatan mencatat 1.000 kematian di atas angka normal sejak gelombang panas dimulai pada 20 Juni.
Secara keseluruhan, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mencatat 1.300 kematian di atas angka normal di seluruh Eropa sejak 21 Juni. Ia menyebut Eropa sebagai benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia, dua kali lipat dibanding rata-rata global. "Fenomena yang dulu terjadi sekali dalam satu generasi kini hampir terjadi setiap tahun," katanya. Mayoritas korban berusia 65 tahun ke atas, meski beberapa kasus kematian akibat sengatan panas juga tercatat di Spanyol dan Jerman pada kelompok usia lebih muda.
Dosen di Grantham Institute Imperial College London, Garyfallos Konstantinoudis, menjelaskan gelombang panas berbahaya karena memicu stres akibat panas, kondisi ketika tubuh kesulitan mengatur suhunya sehingga dapat menyebabkan dehidrasi, kelelahan, hingga sengatan panas yang mengancam nyawa. Menurutnya, kondisi ini juga dapat memicu serangan jantung dan stroke, terutama pada kelompok rentan seperti lansia dan penyandang disabilitas.
Menurut para ahli meteorologi, suhu ekstrem ini disebabkan oleh fenomena kubah panas yang terbentuk di sebagian besar wilayah Eropa Barat, didukung pola cuaca yang menjebak udara panas di satu wilayah selama berhari-hari. Peneliti Geografi Manusia dari Royal Holloway University of London, Laurie Parsons, mengatakan gelombang panas seperti ini sekitar 30 kali lebih mungkin terjadi dibanding sebelum era perubahan iklim akibat aktivitas manusia.
Sejumlah negara mulai merespons persoalan ini. Paris dan Denmark menggencarkan pemantauan kesejahteraan lansia, sementara Barcelona membuka lebih dari 500 tempat perlindungan iklim bagi warga. Konfederasi Serikat Buruh Eropa turut mendesak Komisi Eropa menetapkan batas maksimal suhu kerja demi keselamatan pekerja. Namun para ilmuwan mengingatkan solusi seperti pendingin ruangan hanya bersifat sementara, sebab listrik yang digunakan sebagian besar masih berasal dari bahan bakar fosil dan berpotensi memperburuk pemanasan global.
Direktur Riset Grantham Institute, Joeri Rogelj, menegaskan respons reaktif saja tidak cukup untuk mengatasi gelombang panas yang didorong oleh emisi gas rumah kaca. Program Lingkungan PBB (UNEP) merekomendasikan negara-negara menerapkan strategi pendinginan pasif seperti penanaman pohon, menyusun standar tata kota agar infrastruktur menyebarkan panas, mempercepat transisi energi bersih, serta memperkuat sistem peringatan dini dan layanan kesehatan bagi kelompok rentan.
Editor : ALengkong