Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Mengapa Eropa Menggelontorkan Dana untuk Menjaga Laut Indonesia?

Amelia Beatrix • Sabtu, 18 Juli 2026 | 10:14 WIB
Keterangan Foto: (Kiri) Jurnalis Manado Post, Amelia Beatrix, berbincang dengan Country Director KfW Development Bank Indonesia, Burkhard Hinz (kanan), di sela kunjungan Delegasi Uni Eropa 15-17 July 2026
Keterangan Foto: (Kiri) Jurnalis Manado Post, Amelia Beatrix, berbincang dengan Country Director KfW Bank Pembangunan Jerman, Burkhard Hinz (kanan), di sela kunjungan Delegasi Uni Eropa 15-17 July 2026

MANADOPOST.ID — Ketika sebagian besar investasi asing mengalir ke jalan, pelabuhan atau kawasan industri KfW Bank Pembangunan Jerman justru menanamkan dananya untuk melindungi terumbu karang, mangrove dan padang lamun di Minahasa Utara. Pilihan itu menjadi pesan utama di balik kunjungan delegasi Uni Eropa ke kawasan konservasi Likupang, Jumat (17/7), yang menegaskan bahwa laut sehat adalah fondasi ekonomi masa depan.

Bersama Uni Eropa, KfW mendanai program Marine Biodiversity and Support of Coastal Fisheries in the Coral Triangle yang dijalankan Kementerian Kehutanan dan Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia. Program ini tidak hanya menjaga keanekaragaman hayati di jantung Segitiga Terumbu Karang, tetapi juga mendorong perikanan berkelanjutan dan penghidupan masyarakat pesisir.

Bagi KfW, nilai investasi itu melampaui batas Indonesia. Country Director KfW Bank Pembangunan Jerman di Indonesia, Burkhard Hinz, mengatakan kekayaan hayati laut Indonesia merupakan aset global yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.

"Indonesia adalah negeri yang indah dan kaya keanekaragaman hayati. Kekayaan itu bukan hanya untuk Indonesia, tetapi juga menopang kebutuhan dunia. Misi kami adalah bagaimana ini nantinya diwariskan kepada generasi yang akan datang," kata Hinz.

Ia menilai kawasan pesisir seperti Likupang memiliki peran strategis sebagai penyimpan karbon biru sekaligus penopang ketahanan pangan. Karena itu, investasi konservasi dipandang sebagai investasi ekonomi jangka panjang.

"Kami melakukan pembiayaan kemitraan bersama Uni Eropa untuk mendesain program yang bervisi pada pelestarian lingkungan," ujarnya.

Dampaknya mulai terlihat. Sejak 2019, program telah memperkuat pengelolaan 21 kawasan konservasi perairan seluas lebih dari 1,63 juta hektare. Di Desa Gangga Dua, penerapan sistem buka-tutup bagan meningkatkan pendapatan nelayan dari sekitar Rp20 juta menjadi Rp48 juta per musim.

Bagi Hinz, keberhasilan konservasi tidak ditentukan besarnya investasi, melainkan perubahan cara pandang. "Jika tidak ada kepedulian terhadap pelestarian lingkungan, itu adalah sebuah kegagalan," katanya. Di Likupang, KfW bertaruh bahwa laut yang terjaga akan menghasilkan keuntungan ekonomi yang jauh lebih besar daripada eksploitasi jangka pendek.(AME)

Editor : Amelia Beatrix
KFW WCS Bank Pembangunan Jerman Coral Triangle uni eropa