MANADOPOST.ID- Masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) mengenal satu semboyan yang dicetuskan oleh Dr Sam Ratulangi. Yakni Sitou Timou Tumou Tou atau “Orang Hidup Menghidupkan Orang Lain”.
Perwira TNI berdarah Kawanua Mayjen Rano Maxim Adolf Tilaar SE bersama para budayawan Sulut, diskusi bersama terkait kebudayaan dengan topik orang hidup untuk menghidupi orang lain, di salah satu rumah kopi ternama di Kota Manado, Rabu (25/10/2023).
Mayjen Tilaar mengatakan, Doktor Sam Ratulangi berpesan bahwa manusia baru dikatakan pernah hidup, jika dia pernah memanusiakan manusia yang lain.
"Ada pepatah mengatakan, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan pamrih untuk manusia lainnya," urai eks Staf Khusus Kasad ini.
‘’Doktor Sam Ratulangi bilang, ngana musti kase hidup pa orang lain, maka orang akan ingat ngana pernah hidup.’’
Dalam kehidupan sehari-hari bentuk praktek dari falsafah ini adalah menerima dan menghormati keberadaan sesamanya.
Dari semangat ini, nantinya akan muncul bentuk kerjasama untuk berjuang dan saling bahu-membahu.
"Falsafah Sitou Timou Tumou Tou bermuatan solider dalam masyarakat bangsa dan kasih sayang terhadap sesama. Hal ini akan membuat sikap saling menumbuhkan dan memberi peluang mewujudkan diri tanpa adanya dominasi dan diskriminasi dari pihak lain," tutur Tenaga Ahli Pengajar Bidang Strategi Lemhannas.
Dia juga mengimbau agar menghilangkan budaya baku cungkel. Sebab ada kecenderungan orang Manado, ketika melihat sesamanya sudah sukses, bukan disupport tapi dijatuhkan.
Belum lagi, ketika sama-sama sedang berada di atas, budaya itu tetap berlaku agar tak ada pesaing.
‘’Ini yang harus kita hilangkan. Baku cungkel atau saling pandang enteng (Sei Reen), kita musti kase ilang ego itu. Ini tentunya untuk kebaikan torang ke depan secara bersama," harap mantan Komandan Garnisun Tetap 1/Jakarta ini. (mpd)
Editor : Gregorius Mokalu