MANADOPOST.ID - Terkenal bukan karena viral. Nama Rumah Makan Nasi Kuning Sederhana sudah dikenal sejak dulu. Separoh abad dilewati, warung ini telah menjadi saksi bisu perjalanan panjang keluarga berdarah Gorontalo menjalankan bisnis kuliner. Tempat ini menjadi sejarah, tradisi dan citarasa berkelindan dalam satu piring nasi kuning.
Nama "Sederhana" yang melekat pada Rumah Makan Nasi Kuning ini jauh dari mencerminkan perjalanan bisnisnya yang penuh liku. Sejak berdiri di jantung Kota Manado tahun 1968, rumah makan ini tetap bertahan.
Rusli Abidjulu sebagai generasi kedua pengelola bercerita, tempatnya sejak dulu tidak pernah berpindah. Di Jalan Dr Soetomo, Pinaesaan, Kecamatan Wenang. Ukuran kala itu hanya sepetak. Jika dilihat bentuk rumah makannya yang sekarang, posisi jualannya di area teras luar. Sangat sederhana, sesuai namanya. Jualannya pun sederhana. Tak banyak. Hanya nasi kuning dan gohu.
Rusli bercerita, pemilik awal tempat tersebut adalah warga keturunan Cina. Orangtua Rusli setia menjaga tempat tersebut. Niat baik berbuah manis. Sang pemilik akhirnya memberi secara cuma-cuma rumah kepada orangtua Rusli. Hingga akhirnya tahun 1977, tempat jualannya sudah di dalam rumah hingga sekarang.
Untuk membuat hidangan, ayah dari Rusli yang hobi masak bertugas membuat nasi. Sedangkan sang ibu menyiapkan abon hingga pelengkap lain. Bagi Rusli, rumah makan ini lebih dari sekadar warisan bisnis. Ia adalah saksi kenangan masa kecil. "Dulu, kami memasak bukan pakai kompor, tapi kayu bakar. Sebelum bisa bermain sama teman-teman, saya harus bantu bakar kayu dulu," kenang Rusli. Belum lagi kalau musim hujan, kayu yang basah tak mudah menyala. Kehidupan sederhana dibalut dalam kesetiaan pada tradisi ini yang terus Rusli kenang dan rawat.
Ia juga bercerita soal tanggung jawab bisnis ini saat orangtua meninggal. Lima kakak beradik harus menentukan siapa yang pantas melanjutkan usaha keluarga tersebut. Nasib membawa warung ini kembali ke tangan Rusli yang sudah akrab dengan asap dapur sejak kanak-kanak. “Saya tahu resepnya, tapi lebih dari itu, saya hidup di dalamnya," ujar pria 65 tahun itu.
Tapi menjaga warisan resep bukanlah tugas mudah. Ketika Rusli terpaksa bertugas di Gorontalo sebagai PNS, kualitas mulai menurun. Komplain berdatangan. "Rasanya beda, dan orang-orang tahu. Harus saya yang turun langsung buat," katanya. Ternyata, sentuhan tangan Rusli adalah kunci rahasia yang tak bisa digantikan siapa pun.
Tantangan juga datang dari harga bahan baku yang terus melonjak. Rica (cabai), salah satunya. Sebagai komponen penting, Rusli harus memutar otak agar kualitas tak tergadaikan. Juga pemakaian bahan alami demi mempertahankan rasa. "Tidak boleh pakai bumbu sachet yang instan. Saya harus memeras kunyit untuk bumbu nasi kuning. Butuh waktu, tapi harus seperti itu," tegasnya.
Cara jadul itu ia pertahankan dari dulu. Termasuk komponen yang ada di jualannya. Selain ada nasi, sepiring dilengkapi semur daging sapi dan kentang, abon cakalang yang gurih, kriuk bete dan bawang goreng yang harum. Juga ada pelengkap sambal rica dan telur.
Komposisinya mungkin tampak sederhana. Tapi pelanggannya bisa menembus pasar internasional. Bahkan instansi besar seperti Mabes Polri pernah memesan ratusan bungkus. "Kepercayaan itu yang selalu jaga," ucap Rusli, bangga.
Di era digital saat ini, Rusli juga harus beradaptasi dengan zaman. Bersama istri dan dua anaknya, ia memperkuat branding bisnis keluarga. Logo yang dulu biasa saja kini tampil lebih menarik. Eksistensi rumah makan ini digenjot melalui media sosial serta layanan ojek online. “Kami juga buka 24 jam,” imbuhnya menjelaskan.
Di akhir perbincangan dengan Manado Post, menurut Rusli, resep bisnisnya bertahan bukan hanya kualitas dan rasa, namun juga semangat. "Entah pendapatan sedikit atau banyak di hari itu, kita tidak boleh menyerah," tukasnya. (tkg)
Editor : Kenjiro Tanos