MANADOPOST.ID - Di tengah hiruk-pikuk bisnis kuliner Jakarta yang terus bergerak cepat, Gabriela Rompis memilih melangkah dengan cara yang tenang, tapi pasti.
Pebisnis asal Manado itu membangun usahanya bukan dengan mengejar tren sesaat, melainkan lewat keberanian memulai, konsistensi menjaga kualitas, dan keyakinan bahwa makanan selalu punya cerita.
Bagi Gabriela, bisnis kuliner bukan sekadar soal menjual menu, tetapi tentang menghadirkan rasa yang membuat orang ingin kembali.
“Orang balik bukan cuma karena rasa, tapi karena perasaan yang mereka dapat,” ujar Gabriela Rompis saat ditemui dalam wawancara.
Pandangan itu menjadi fondasi yang ia bawa saat mengembangkan dua merek kuliner miliknya di Jakarta, Maru dan Talenta Misoa.
Meski hadir dengan karakter berbeda, keduanya tumbuh dari akar yang sama, yakni kenangan rumah dan rasa pulang yang akrab.
“Talenta itu hangat dan sederhana, ada rasa masakan rumah. Maru lebih modern, lebih playful, tapi tetap punya memori yang sama,” katanya.
Perjalanan Gabriela di dunia usaha tidak lahir dari jalur yang instan. Sebelum membangun bisnis sendiri, ia sempat bekerja di dunia korporasi.
Namun pandemi mengubah arah hidupnya dan mendorongnya mengambil keputusan besar untuk memulai dari nol.
Dari titik itu, Gabriela mulai merancang usahanya dengan keyakinan bahwa bisnis harus dibangun lebih dari sekadar produk.
Ia percaya pelanggan datang bukan hanya untuk membeli makanan, tetapi juga untuk merasakan pengalaman yang jujur dan konsisten.
“Bisnis itu harus punya cerita. Harus jujur, harus konsisten. Kalau tidak, orang tidak akan merasa dekat,” ujarnya.
Di balik pertumbuhan usahanya, Gabriela mengaku sempat melewati fase yang tidak mudah.
Persoalan operasional, ritme kerja tim, hingga kehilangan arah sempat menjadi tantangan yang menguji usahanya. Dari sana, ia belajar bahwa membangun bisnis juga berarti berani membongkar hal yang tidak lagi berjalan.
“Kalau ada yang salah, harus berani bongkar dan mulai ulang,” kata Gabriela.
Prinsip itu yang membuatnya tetap bertahan di tengah pasar yang kompetitif. Saat banyak bisnis sibuk mengejar perhatian lewat tren cepat, Gabriela justru memilih menjaga identitas mereknya. Baginya, bertahan lebih penting daripada sekadar ramai sesaat.
“Consistency over hype,” ucapnya singkat.
Sebagai perempuan asal Manado, Gabriela juga membawa akar budaya yang kuat ke dalam bisnisnya.
Cita rasa yang ia bangun lahir dari keberanian, kehangatan, dan memori masa kecil yang tumbuh bersama masakan rumah di Sulawesi Utara.
Di luar perannya sebagai pengusaha, Gabriela juga menjalani keseharian sebagai ibu. Ia menyebut keseimbangan bukan soal membagi waktu dengan adil, melainkan hadir sepenuhnya dalam setiap peran yang sedang dijalani.
“Ada waktu untuk bisnis, ada waktu untuk keluarga. Yang penting hadir dengan utuh,” tuturnya.
Bagi Gabriela, membangun usaha bukan semata soal memperbesar bisnis, tetapi juga menjaga nilai yang dibawa sejak awal.
Dalam beberapa tahun ke depan, ia ingin usahanya tumbuh dengan sistem yang lebih kuat, tim yang sehat, dan identitas yang tetap terjaga.
Kisah Gabriela Rompis menunjukkan bahwa di tengah kerasnya persaingan ibu kota, keberanian untuk memulai dan konsistensi untuk bertahan tetap menjadi modal paling penting. (tkg)
Editor : Kenjiro Tanos