MANADOPOST.ID-Pricilia Tamawiwy menjadi korban meninggal dunia dalam musibah kebakaran di Mega Mall Manado, Sabtu (16/5). Pricilia diketahui merupakan karyawan di Mega Mall.
Dalam proses evakuasi, jasad Pricilia ditemukan oleh dua personel Tim Rescue Damkar Manado yakni Piter Lanes dan Marlon Bangonang.
Kepada Manado Post, Minggu (17/5) Piter Lanes menceritakan kronologis singgkat proses evakuasi terhadap jasad korban Pricilia.
Menurut Piter, Tim Rescue berapa kali mencoba/mengakses lokasi tersebut. Namun, lokasi itu susah diakses karena selang pemancar air belum sampai di titik korban berada.
"Jadi, memang untuk kondisi di lapangan itu hawanya panas. Sehingga akses susah. Dengan APD serta perlengkapan yang ada, kemudian kami terus mencari korban.
Untuk sampai di titik korban, kami harus melewati pintu yang sudah ada api, kemudian menaiki tangga lagi, lalu menuju ke ruangan dimana korban berasa," kata Piter.
Di titik itu, Piter bersama rekannya Marlon harus menerima resiko, dimana ruangan terasa sangat panas akibat belum sampainya selang pemancar di titik korban berada.
"Jadi, pertama masuk, saya sampaikan ke teman bahwa coba cari, pastikan dulu posisi korban di mana. Baru nanti balik lagi dan ke titik korban dan langsung evakuasi.
Waktu masuk pertama kami coba lihat dulu, pelajari dulu ruangannya. Karena di ruangan lain sudah kami cek, tidak ada. Nah, ada satu ruangan di paling ujung, dan mungkin itu ruangan meeting. Soalnya ada meja-meja sama kursi.
Ketika saya naik yang kedua kali, langsung ke ruangan itu. Waktu masuk, saya coba cari. Di situ saya lihat ada cahaya dan senter dengan ada bunyi-bunyi handphone milik korban," tuturnya.
Jasad Pricilia, kata Piter, ditemukan dengan posisi setengah badan (dari perut sampai kepala) itu di bawah meja. Dimana yang sebagian badannya tertimbun dengan puing-puing plafon yang kemungkinan terjatuh
"Waktu ditemukan, saya langsung kontak seorang teman untuk menarik keluar korban. Cuma memang karena korban agak besar dan kami hanya berdua, jadi kami berusaha tarik korban dulu. Yang penting korbannya sudah bisa keluar dari area itu.
Karena memang agak sulit posisinya. Akses masuk ke ruangan itu saja harus melalui lorong yang spacenya diperkirakan hanya 1 meter. Jadi pergerakan agak sulit," ungkapnya.
Dalam proses menarik keluar korban, APD yang dipakai Piter ternyata sudah berbunyi. Dimana itu merupakan bunyi alarm tanda harus segera keluar.
"Karena APD berbunyi, saya katakan, tinggalkan dulu korbannya sebentar, nanti kita balik lagi. Tapi teman saya sampaikan, izin komandan, kita tarik saja sampai di depan. Tapi saya tak mau ambil risiko karena APD sudah bunyi. Jadi, saya keluar duluan," ucapnya.
Ketika Piter keluar, Marlon terus menarik keluar jasad korban. Saat sampai di pintu, ada beberapa orang (karyawan) Mega Mall, dan kami panggil untuk bantu tarik korban. Kebetulan ada teman-teman juga dari Brimob. Jadi langsung sama-sama tarik keluar," ceritanya.
Dari situ, tim gabungan langsung evakuasi korban dan langsung dimasukkan di kantong jenazah.
Piter mengaku, tidak tahu persis lokasi korban ada di lantai berapa dan ruangan apa. Namun, dirinya menduga ruangan dimana korban ditemukan adalah semacam office. Karena terdapat banyak perlengkapan kantor.
"Itu di ruangan paling pojok. Karena akses ke situ memang agak sempit. Makanya agak terkendala waktu kami tarik keluar korban. Kalau agak luas, mungkin cepat evakuasinya.
Ditambah lagi sudah banyak barang-barang jatuh dan barang terbakar. Dan kami itu mendapat informasi awal bahwa korban sempat melambai pakai senter handphone. Jadi, kami coba olah korban di area itu dan bisa memperkecil radius.
Sehingga proses evakuasi memang lumayan agak cepat di saat kami sudah masuk yang kedua," kuncinya. (lak)
Editor : Livrando Kambey