MANADOPOST.ID-,Ucapan selamat Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia yang diunggah akun Facebook PDAM Wanua Wenang Manado pada 17 Agustus 2026 justru menuai sorotan tajam dari masyarakat.
Alih-alih dipenuhi ucapan selamat, kolom komentar unggahan tersebut dibanjiri keluhan pelanggan yang mempertanyakan pelayanan air bersih.
Warga menyindir keras bahwa di tengah perayaan kemerdekaan, sebagian pelanggan justru masih 'belum merdeka' dari persoalan air yang tidak mengalir.
"Air belum juga mengalir. Merdeka untuk negera iya. Tapi air PAM belum merdeka," tulis akun Melisa Austin.
"Merdeka bagaimana sedang air PDAM tidak jalan. Merdeka dari Hongkong!' sindir akun Bypatricia Cooking.
Sejumlah komentar menyebut air PDAM di rumah mereka tidak mengalir selama berminggu-minggu bahkan hingga berbulan-bulan.
Negara sudah merdeka 81 tahun, tapi air PAM belum merdeka, menjadi salah satu nada kritik warga yang menggambarkan kekecewaan terhadap kondisi pelayanan.
Keluhan juga datang dari sejumlah wilayah yang disebut mengalami gangguan cukup parah. Warga Winangun, misalnya, mengaku air mati hingga sekitar dua bulan.
Ketika kembali mengalir, air disebut hanya muncul sekitar dua kali dalam seminggu, itu pun dengan debit kecil dan pada tengah malam.
Keluhan serupa disampaikan warga Ranotana Weru yang mempertanyakan kepastian kapan distribusi air bersih kembali normal.
"Kami juga sudah berbulan-bulan air tidak jalan di Ranotana Weru Lingkungan 1," tulis akun Rmonintja
Tak hanya persoalan distribusi, warga juga menyoroti respons layanan pengaduan PDAM. Sejumlah pelanggan mengaku pesan melalui WhatsApp lambat mendapat tanggapan, bahkan ada yang merasa aduannya tidak ditindaklanjuti.
Ada pula warga yang mempertanyakan mekanisme layanan pengaduan yang disebut lebih banyak mengandalkan pesan singkat dan tidak melayani panggilan telepon. Bagi pelanggan, kondisi tersebut dinilai menyulitkan ketika persoalan air membutuhkan penjelasan dan penanganan yang cepat.
Kekecewaan semakin mencuat karena sebagian warga mengaku sudah berulang kali menyampaikan pengaduan, namun belum mendapatkan kepastian mengenai kapan air akan kembali mengalir secara normal.
Persoalan lain yang ikut disorot adalah tagihan bulanan.
Sejumlah pelanggan mempertanyakan kewajaran tetap dibebankan tagihan ketika air disebut tidak mengalir selama berbulan-bulan.
Bahkan, ada warga yang menampilkan nominal tagihan sekitar Rp125 ribu dan mempertanyakan dasar pembebanan biaya tersebut di tengah buruknya kontinuitas pelayanan.
"Di tempat kami air tidak jalan sudah beberapa bulan. Tetapi pembayaran jalan terus. Per bulan Rp125.000. Sudah ke kantor PDAM, tapi katanya itu sudah aturan. Nanti Tuhan yang tegur cara mereka begitu," ungkap akun bernama Evie Keintjem.
Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah serius bagi pengelola layanan air bersih. Sebab, bagi masyarakat, kemerdekaan bukan sekadar slogan yang diperingati setiap 17 Agustus, tetapi juga menyangkut hak dasar untuk memperoleh pelayanan publik yang layak.
Ucapan HUT RI seharusnya menjadi momentum evaluasi pelayanan, bukan justru menjadi ruang bagi pelanggan untuk menumpahkan kekecewaan.
Publik tentu berharap PDAM Wanua Wenang tidak sekadar merespons keluhan di media sosial, tetapi memberikan solusi konkret, transparan, serta kepastian mengenai penyebab gangguan dan kapan distribusi air kembali normal. Sebab, bagi pelanggan yang setiap bulan tetap dibebankan kewajiban membayar. (lak)
Editor : Livrando Kambey