MANADOPOST.ID-Di tengah hiruk-pikuk pembangunan Kota Manado, masih ada warga yang menjalani hari-harinya dalam kesunyian, bertahan hidup dengan segala keterbatasan.
Salah satunya adalah Oma Marie Rumengan, warga Lingkungan III, Kelurahan Winangun Dua, Kecamatan Malalayang. Perempuan lanjut usia (lansia) ini hidup dalam kondisi serba kekurangan dan kini menumpang di sebuah rumah kosong milik warga.
Kisah kehidupan Oma Marie mendapat perhatian langsung dari Wali Kota Manado Andrei Angouw. Rabu (19/8) pagi, Wali Kota bersama Ketua Tim Penggerak PKK, Iren Golda Pinontoan datang melihat langsung kondisi Oma Marie.
Kunjungan itu bukan sekadar agenda seremonial. Di balik kedatangan tersebut, ada upaya untuk memastikan bahwa warga yang berada dalam kondisi paling rentan tidak luput dari perhatian pemerintah.
Oma Marie diketahui tidak memiliki penghasilan tetap. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia bergantung pada uluran tangan tetangga maupun bantuan dari Gereja GMIM Bukit Moria Winangun, tempat dirinya tercatat sebagai jemaat Kolom 2.
"Kalau melihat kondisinya,nOma Marie masuk dalam kategori miskin ekstrem berdasarkan data yang ada. Sehingga memang butuh perhatian pemerintah," kata Wali Kota.
Ironisnya, Oma Marie belum menerima bantuan dana lansia berdasarkan kategori desil yang berlaku. Namun, untuk kebutuhan layanan kesehatan, kepesertaan BPJS-nya telah ditanggung melalui APBD.
Di rumah sederhana tempatnya menumpang itulah, Wali Kota dan Ibu Iren berbincang langsung dengan Oma Marie. Berbagai hal ditanyakan, mulai dari bagaimana ia menjalani kehidupan sehari-hari, kondisi anak dan cucu, hingga perhatian dari pemerintah kelurahan dan lingkungan.
"Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting. Sebab, data kemiskinan di atas kertas harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang benar-benar menyentuh kehidupan warga," terangnya.
Iren Golda Pinontoan pun tidak hanya mendengarkan. Dalam percakapan tersebut, ia memberikan penguatan dan semangat kepada Oma Marie agar tetap kuat menjalani pergumulan hidup.
Wali Kota Andrei Angouw melihat kondisi tersebut sebagai persoalan yang membutuhkan penanganan pemerintah secara lebih serius, khususnya bagi warga yang masuk kategori miskin ekstrem.
Kunjungan ini sekaligus menunjukkan bahwa penanganan kemiskinan tidak cukup hanya mengandalkan angka dan data. Ada wajah manusia di balik setiap angka—ada kehidupan, kebutuhan, serta harapan yang harus diperjuangkan.
Bagi Oma Marie, kedatangan Wali Kota dan Ibu Iren mungkin hanya berlangsung singkat. Namun bagi seorang warga lanjut usia yang selama ini menjalani kehidupan dengan keterbatasan, perhatian langsung dari pemimpin daerah tentu memiliki arti tersendiri.
Pemerintah pun dituntut tidak berhenti pada kunjungan. Perhatian tersebut harus berlanjut menjadi kebijakan dan bantuan nyata, sehingga warga seperti Oma Marie tidak hanya tercatat dalam kategori miskin ekstrem, tetapi benar-benar mendapatkan jalan keluar dari kondisi yang selama ini membelenggu kehidupannya. (lak)
Editor : Livrando Kambey