MANADOPOST.ID-Polemik mencuat di balik pelaksanaan upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Sparta Tikala Manado 17 Agustus lalu.
Seorang anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) asal SMA Negeri 1 Manado, Christoffel Jeremia Tene yang telah menjalani latihan berbulan-bulan, ternyata tidak ditampilkan dalam upacara pengibaran maupun penurunan bendera pada 17 Agustus 2026.
Orang tua Christoffel, Janti Sambur kepada Manado Post, Kamis (20/8) mengaku kecewa dan mempertanyakan transparansi panitia Paskibraka Kota Manado dalam hal ini Kesbangpol. Ia menilai anaknya seolah mendapat perlakuan berbeda dibandingkan anggota Paskibraka lainnya.
Menurut Janti yang merupakam warga Wanea Tanjung Batu, Lingkungan 1 itu, persoalan bermula setelah pengukuhan Paskibraka pada Jumat 14 Agustus. Sehari kemudian, saat karantina di Hotel Grand Puri, Sabtu (15/8), ada 8 anggota Paskibraka kedapatan merokok. Christoffel merupakan salah satu dari 8 Paskibraka itu.
Akan tetapi, yang dapat hukuman tidak ditampilkan saat upacara hanya 1 anggota Paskibraka. Sisanya 7 anggota Paskibraka yang juga kedapatan merokok, tetap ditampilkan.
Janti mengaku pihak panitia tidak pernah menyampaikan persoalan tersebut kepada dirinya sebagai orang tua.
"Saya sebagai orang tua, saya paling tahu karakter anak saya. Saya sangat kecewa dan sakit hati. Saat pengukuhan, saya begitu bangga melihat anak kami berdiri tegap untuk dikukuhkan," ujar Janti.
Kekecewaan semakin memuncak ketika hari pelaksanaan upacara 17 Agustus. Janti mengatakan, ketika upacara pagi berlangsung, Christoffel sempat berada dalam barisan, namun kemudian ditarik keluar oleh salah satu pejabat Kesbangpol Pemkot Manado, yang disebut bernama Roy Sekeon.
Saat ditanya mengapa anaknya tidak ditampilkan, Janti mengaku mendapat sejumlah alasan. Di antaranya, Christoffel disebut oleh Roy Sekeon bahwa tidak tahu berdoa, pernah pingsan ketika latihan, serta mengendarai sepeda motor tanpa menggunakan helm.
Bagi Janti, alasan tersebut justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan. Ia kemudian mengonfirmasi langsung kepada anaknya setelah berada di rumah. Menurut pengakuan Christoffel kepada ibunya, dirinya tidak pernah pingsan saat latihan. Ia hanya mengalami sakit perut.
Begitu pula terkait tudingan tidak mengetahui doa. Christoffel disebut mengaku tidak pernah diminta memimpin doa, melainkan hanya mendapat tugas piket dan memegang teks doa. Ia mengakui memang terdapat sedikit kesalahan dalam pelaksanaannya.
"Itu alasan yang mengada-ada. Anak saya juga bilang tidak pernah pingsan. Hanya sakit perut waktu latihan," kata Janti.
Janti juga mempertanyakan alasan mengapa dari 8 anggota yang disebut terlibat pelanggaran, tetapi hanya Christoffel yang akhirnya tidak tampil dalam prosesi upacara.
Ketika mempertanyakan hal tersebut, menurut Janti, pihak panitia menyampaikan bahwa anggota lainnya tetap ditampilkan karena mereka memiliki posisi sebagai pengibar dan komandan sehingga tidak tersedia lagi pengganti. Jawaban itu justru membuat Janti semakin kecewa.
"Kenapa dari 8 orang hanya anak saya yang tidak tampil? Kalau memang ada pelanggaran, seharusnya aturan diberlakukan secara jelas dan transparan kepada semua," tegasnya.
Lebih jauh, Janti mengungkapkan perjuangan keluarganya untuk mendukung pendidikan dan masa depan anaknya. Sebagai ibu rumah tangga, sementara suaminya bekerja sebagai buruh lepas, ia mengaku kondisi ekonomi keluarga tidak mudah.
"Pendapatan sehari habis sehari. Tetapi kami sebagai orang tua tetap berusaha semaksimal mungkin untuk masa depan anak-anak kami," ujarnya.
Ia menilai perjuangan dan kerja keras anak-anak yang telah menjalani latihan berbulan-bulan seharusnya dihargai secara adil. Jangan sampai keputusan pada detik-detik terakhir justru menimbulkan luka bagi anak dan keluarganya.
"Saya benar-benar sangat kecewa dengan panitia penyelenggara Paskibraka Kota Manado. Jangan sampai ada kesan hanya anak-anak pejabat yang diperhatikan," katanya. (lak)
Editor : Livrando Kambey