Sulut Kehilangan Jurnalist Hebat Ferry Rende

Tommy Waworundeng • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 10:54 WIB
Ferry Rende saat bersama Jokowi
Ferry Rende saat bersama Jokowi

 

MANADOPOST.ID— Kabar duka datang dari dunia jurnalistik, penyiaran dan organisasi kemasyarakatan Sulawesi Utara.

 Ferry B.M. Rende, jurnalis senior, praktisi penyiaran, penulis dan Ketua DPD GPPMP Sulawesi Utara, telah berpulang.

Ferry Rende meninggal dunia pada pukul 09.56 WITA di RS Hermina Manado, setelah sebelumnya diketahui dalam kondisi sakit.

Kepergian Ferry meninggalkan duka bagi keluarga, sahabat, rekan-rekan jurnalis, aktivis organisasi, serta berbagai kalangan yang selama ini mengenal kiprahnya.

Yang membuat sosok Ferry begitu dikenang, adalah semangatnya untuk tetap beraktivitas dan menyuarakan berbagai persoalan publik, bahkan ketika kondisi kesehatannya mulai menurun.
Dalam kondisi sakit, Ferry masih menyempatkan diri mengikuti pertemuan GPPMP, Gapempi, GPMPI dan Garda Merah Putih di Bogor, Sabtu (29/8/2026).

Kehadiran tersebut menjadi salah satu gambaran kuat tentang karakter Ferry yang tetap aktif dalam organisasi dan pergerakan hingga masa-masa terakhir kehidupannya.


Ferry B.M. Rende dikenal sebagai salah satu jurnalis senior asal Sulawesi Utara. Ia pernah menjadi wartawan Cahaya Siang dan Media Indonesia, serta aktif sebagai praktisi penyiaran.
Pengalamannya di dunia jurnalistik membuat Ferry dikenal bukan hanya sebagai pencari dan penulis berita, tetapi juga sebagai sosok yang kerap memberikan pandangan kritis terhadap berbagai persoalan publik di Sulawesi Utara.

Situs STIPAN pada 2021 pernah menyebut Ferry sebagai jurnalis senior dan mencatat pengalamannya sebagai staf khusus Sumarsono ketika menjabat sebagai Penjabat Gubernur Sulawesi Utara pada 2015-2016, kemudian saat Sumarsono menjadi Plt Gubernur DKI Jakarta dan Penjabat Gubernur Sulawesi Selatan. 


Jejak pemikirannya juga masih terlihat dalam berbagai pemberitaan mengenai isu pemerintahan, penyiaran dan sosial kemasyarakatan.

Pada Maret 2025, misalnya, Ferry memberikan pandangan kritis mengenai dugaan persoalan laporan pertanggungjawaban KPID Sulawesi Utara. Dalam pemberitaan tersebut, ia tampil sebagai praktisi senior penyiaran Sulut dan menekankan pentingnya integritas serta pertanggungjawaban lembaga penyiaran. 


Tidak Hanya Menulis Berita, Ferry Juga Meninggalkan Buku
Ferry juga meninggalkan jejak melalui dunia literasi.
Bersama Jeffrey M. Rawis, Ferry B.M. Rende menjadi penulis buku Episode Kehidupan Theo L. Sambuaga: Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang Berkarya Bagi Bangsa.

Buku tersebut diterbitkan pada 2024, terdiri dari 340 halaman dan memiliki ISBN 978-623-160-575-7. Buku tersebut juga tercatat dalam katalog Perpustakaan Kementerian Pekerjaan Umum. 


Karya tersebut menjadi salah satu bukti bahwa kiprah Ferry tidak berhenti pada pemberitaan sehari-hari. Ia juga berupaya mendokumentasikan perjalanan dan pemikiran tokoh bangsa melalui karya tulis.


Dalam beberapa tahun terakhir, Ferry memilih lebih banyak berada di Leilem, Minahasa.
Dalam sebuah pemberitaan pada Juli 2026, Ferry masih aktif menyampaikan pandangannya mengenai perubahan demografi Sulawesi Utara dan kondisi masyarakat Minahasa.

 Ia berbicara mengenai migrasi generasi muda, perubahan pola keluarga, menurunnya angka kelahiran serta pentingnya menjaga regenerasi masyarakat Minahasa. 


Bahkan, dalam pemberitaan tersebut Ferry disebut menghabiskan banyak waktu dan menetap di Leilem, Minahasa, serta menjalani aktivitas sebagai peternak ayam kampung unggul. 


Artinya, sampai beberapa waktu sebelum kepergiannya, Ferry masih aktif berpikir, menulis, berdiskusi dan memberikan perhatian terhadap persoalan masyarakat Sulawesi Utara.

Di luar dunia pers, Ferry juga dikenal aktif dalam organisasi.
Ia tercatat sebagai Ketua DPD GPPMP Sulawesi Utara, pernah menjadi bagian dari KNPI, serta dikenal sebagai simpatisan GMNI.
Bagi rekan-rekan organisasi, Ferry bukan sekadar seorang wartawan. Ia adalah seorang aktivis yang terbiasa berada dalam ruang diskusi, menyampaikan kritik, memperjuangkan gagasan dan membangun komunikasi lintas kelompok.

Semangat tersebut bahkan tetap terlihat menjelang akhir hidupnya. Dalam kondisi sakit, ia masih hadir dalam pertemuan sejumlah organisasi di Bogor pada 29 Agustus 2026.

Selamat Jalan, Bung Ferry
Kini perjalanan panjang itu telah berakhir.
Dari ruang redaksi, dunia penyiaran, organisasi, kegiatan sosial hingga dunia buku, Ferry B.M. Rende telah meninggalkan jejak yang akan dikenang oleh banyak orang.

Ia pergi, tetapi tulisan, gagasan, kritik dan persahabatan yang pernah dibangunnya akan tetap menjadi bagian dari perjalanan banyak orang yang pernah mengenalnya.

Selamat jalan, Bung Ferry Rende.
Terima kasih atas pengabdian, persahabatan, pemikiran dan perjuanganmu bagi dunia pers, organisasi dan Sulawesi Utara.
Selamat jalan sang jurnalis. Selamat jalan sang pejuang.
Semoga mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta penghiburan.

Rest in peace, Bung Ferry. (*) 

 

 

 

 

 

Editor : Tommy Waworundeng
duka berita Meninggal