MANADOPOST.ID-Musim kemarau yang mencapai puncaknya pada September 2026 berdampak terhadap ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Kota Manado.
Kondisi ini menjadi perhatian Pemerintah Kota Manado, khususnya di wilayah daratan Mapanget dan kawasan kepulauan Bunaken.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Manado, Donald Sambuaga mengatakan, berdasarkan informasi dan peta yang disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi panas masih berpotensi berlangsung hingga Oktober.
“Bulan September ini memang puncaknya. Tetapi dari peta yang disampaikan BMKG kepada kami, Oktober juga masih ada musim panas,” ujar Sambuaga, Selasa (15/9).
Menurutnya, kondisi tersebut diperkuat dengan adanya fenomena El Nino yang turut memengaruhi kondisi cuaca dan ketersediaan air. Meski demikian, Sambuaga menyebutkan bahwa memasuki Oktober sudah terdapat prediksi hujan, meskipun intensitasnya masih tergolong ringan.
“Di bulan Oktober sudah ada prediksi hujan, walaupun hujan ringan. Kalau di peta BMKG, sebelumnya merah pekat, kemudian mulai berubah menjadi orange,” jelasnya.
Mengantisipasi dampak kemarau, BPBD Manado bersama sejumlah instansi terus melakukan penyaluran bantuan air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan.
Untuk wilayah Kecamatan Mapanget, beberapa kawasan yang telah menyampaikan kebutuhan air antara lain Kelurahan Paniki Dua, Paniki Bawah dan Mapanget Barat. BPBD juga memiliki data sejumlah titik yang mulai mengalami kekurangan air bersih.
“Yang kami lihat, kondisi di daratan, khususnya daerah Mapanget, memang mulai ada informasi kekurangan air bersih,” katanya.
Dalam penanganannya, BPBD Manado tidak bekerja sendiri. Distribusi air dilakukan melalui koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS), Palang Merah Indonesia (PMI), BPD Sulut, serta Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Direktorat Jenderal Cipta Karya.
Sementara untuk penyediaan air, BPBD berkoordinasi dengan PDAM. Air yang telah disiapkan kemudian didistribusikan kepada masyarakat dengan melibatkan pemerintah di tingkat wilayah.
“Airnya dikoordinasikan dengan PDAM sebagai pihak yang menyiapkan air. Kami membantu mendistribusikan sekaligus berkoordinasi dengan pemerintah setempat,” terang Sambuaga.
Selain wilayah Mapanget, perhatian pemerintah juga diarahkan ke kawasan kepulauan, terutama Kecamatan Bunaken Kepulauan, meliputi Bunaken, Manado Tua, Manado Tua Dua dan Pulau Siladen.
Menurut Sambuaga, distribusi air bersih ke sejumlah wilayah kepulauan bahkan telah dilakukan secara rutin sejak Agustus hingga September 2026, berdasarkan kebutuhan dan permintaan masyarakat.
“Untuk Kecamatan Bunaken Kepulauan memang rutin menyalurkan air berdasarkan permintaan masyarakat. Itu sudah dilayani sejak Agustus sampai September ini,” ungkapnya.
Kondisi di wilayah kepulauan menjadi perhatian khusus karena masyarakat masih sangat bergantung pada curah hujan untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Air hujan biasanya ditampung dalam bak-bak penampungan untuk digunakan ketika tidak terjadi hujan.
Keterbatasan pelayanan jaringan air PDAM ke kawasan kepulauan membuat ketergantungan terhadap air hujan semakin besar. Ketika kemarau berlangsung panjang, cadangan air yang tersedia pun ikut menurun.
“Di daerah kepulauan, sistem air bersih memang sangat bergantung pada hujan. Mereka masih mengandalkan curah hujan yang ditampung ke bak penampungan, karena memang ada kesulitan PDAM melayani di sana,” jelasnya.
Dengan kondisi kemarau panjang yang disertai fenomena El Nino, lanjutnya, pemerintah terus meningkatkan perhatian terhadap ketersediaan air bersih bagi masyarakat. (lak)
Editor : Livrando Kambey