Cerita Om Damkar Manado, Di Balik Api yang Membara, Ada Nyawa yang Harus Diselamatkan

Livrando Kambey • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 10:56 WIB
PERJUANGAN: Petugas Damkar Manado yang harus melawan panasnya bara api demi memadamkan si jago merah
PERJUANGAN: Petugas Damkar Manado yang harus melawan panasnya api demi memadamkan si jago merah

 

MANADOPOST.ID-Musim kemarau tahun ini terasa berbeda. Udara lebih panas, tanah semakin kering, sementara debit air terus menurun. Fenomena El Nino turut memperpanjang musim kemarau dan membuat lingkungan semakin rentan terhadap kebakaran.

Di Kota Manado, ancaman itu datang hampir setiap hari. Hingga 18 September 2026, layanan Call Center 112 Manado telah menerima 311 laporan kebakaran. Angka tersebut menunjukkan peningkatan laporan sejak Juni.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Manado, Noviyanti Mongkau SE mengatakan, peningkatan laporan kebakaran menjadi perhatian pemerintah di tengah kondisi cuaca yang panas dan kering.

Menurutnya, laporan kebakaran yang diterima oleh Call Center 112 Manado menunjukkan peningkatan setiap bulannya mulai dari Juni hingga per hari ini, 18 September 2026, terdapat 311 laporan kebakaran.

Angka 311 bukan sekadar deretan statistik. Di baliknya ada rumah, lahan, sampah, lingkungan dan berbagai situasi yang dalam hitungan menit dapat berubah menjadi ancaman.

Api yang muncul dari pembakaran sampah dapat merambat. Alang-alang kering mudah terbakar. Percikan kecil dapat berubah menjadi kobaran besar ketika angin dan kondisi lingkungan mendukung.

Dan ketika api mulai membesar, ada orang-orang yang justru bergerak mendekatinya. Mereka adalah petugas pemadam kebakaran.

Di tengah kepulan asap, panas yang menyengat dan kobaran api yang bisa berubah arah sewaktu-waktu, seorang petugas pemadam kebakaran tidak memiliki banyak waktu untuk berpikir panjang.

Satu hal yang pertama terlintas di kepala: Apakah masih ada orang yang harus diselamatkan? Begitulah cara Hilario Mario Anlo menjalani tugasnya.

Di media sosial, masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Om Damkar.

Tidak ada jabatan istimewa di balik nama tersebut. Ia adalah seorang staf pada Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Manado yang memilih mengabdikan dirinya untuk masyarakat.

Perjalanan pengabdiannya dimulai pada Maret 2021 ketika ia bergabung sebagai tenaga honorer. Empat tahun kemudian, pada 2025, ia resmi diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara.

Bagi Mario, menjadi petugas pemadam kebakaran bukan sekadar pekerjaan. Ada kepuasan tersendiri ketika pekerjaan yang dilakukan berhubungan langsung dengan keselamatan manusia.

“Saya bangga menjalani pekerjaan sebagai ASN, apalagi terkait dengan menyelamatkan nyawa orang,” katanya saat ditemui di Pos Pemadam Kebakaran Kecamatan Mapanget.

Nama Om Damkar ternyata lahir dari sesuatu yang sederhana. Sebelumnya, Mario menggunakan nama pribadinya, Mario Anlo di media sosial. Namun, sang istri kerap memberikan semangat kepadanya dengan kalimat sederhana: "Semangat Om Damkar.”

Sapaan itu kemudian menjadi inspirasi. Sejak 2025, Mario mengganti nama akun media sosialnya menjadi Om Damkar. Dari sana, nama tersebut perlahan semakin dikenal masyarakat dan akhirnya melekat dengan sosoknya sebagai petugas pemadam kebakaran.

Ia rutin membagikan foto maupun video aktivitas petugas saat menangani kebakaran di berbagai lokasi. Media sosial akhirnya menjadi jembatan yang membuat masyarakat tidak hanya mengenal seragam dan armada merah, tetapi juga mengenal manusia yang berada di baliknya.

Namun, kedekatan tersebut juga menghadirkan tantangan. Di era media sosial, sebuah kebakaran bisa diketahui publik hanya dalam hitungan menit. Foto beredar. Video diunggah. Warga saling membagikan informasi. Tak jarang, akun Om Damkar ikut ditandai dengan harapan petugas segera datang.

Namun bagi petugas, informasi yang ramai di media sosial belum tentu menjadi laporan resmi yang dapat langsung ditindaklanjuti.

Karena itu, Mario meminta masyarakat tidak menjadikan media sosial sebagai jalur pertama ketika melihat kebakaran.

“Jangan dulu diunggah di media sosial, langsung hubungi kami di Layanan Call Center 112, bebas pulsa,” katanya.

Layanan tersebut beroperasi selama 24 jam. Laporan masyarakat akan diterima operator, kemudian diteruskan kepada Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Manado atau perangkat daerah terkait sesuai jenis keadaan darurat.

Bagi petugas, yang paling dibutuhkan bukan sekadar informasi yang viral. Yang dibutuhkan adalah informasi yang cepat dan tepat.

Sebab dalam keadaan darurat, beberapa menit keterlambatan informasi dapat mengubah situasi ketika petugas tiba di lokasi.

Ketika laporan masuk, waktu seakan menjadi sesuatu yang sangat berharga. Perlengkapan segera dipersiapkan. Petugas naik ke armada. Kendaraan bergerak menuju lokasi. Titik kejadian biasanya diketahui melalui peta yang dibagikan dalam grup koordinasi WhatsApp.

Bahkan sebelum laporan datang, armada telah dipersiapkan dengan air sehingga petugas dapat langsung bergerak ketika panggilan darurat diterima.

“Yang ada di pikiran kami, ada orang yang terjebak dan perlu diselamatkan. Kami harus cepat-cepat ke lokasi,” ujar Mario.

Namun perjalanan menuju lokasi bukan tanpa bahaya. Kemacetan dapat memperlambat laju armada. Jalan menuju titik kebakaran terkadang sempit. Kabel listrik yang melintang juga menjadi salah satu risiko yang harus diperhatikan. Bagi masyarakat, suara sirene mungkin hanya berarti satu hal: petugas sedang menuju lokasi. Tetapi bagi mereka yang berada di balik kemudi dan duduk di dalam armada pemadam, perjalanan itu sendiri sudah menjadi bagian dari pertaruhan.

“Pekerjaan kami sudah mempertaruhkan nyawa. Di perjalanan menuju lokasi kebakaran saja sudah mempertaruhkan nyawa, apalagi di lokasi,” katanya.

Laporan awal tidak selalu menggambarkan kondisi sebenarnya. Kebakaran yang disebut kecil bisa berubah menjadi besar ketika petugas tiba di lokasi. Mario pernah menerima laporan mengenai kebakaran alang-alang yang masih berskala kecil. Namun ketika petugas sampai, api telah menjalar dan mendekati rumah warga. Dalam kondisi seperti itu, keberanian saja tidak cukup. Petugas harus memiliki kemampuan, kesiapan dan latihan untuk menghadapi situasi yang terus berubah.

“Kami tidak jago menghadapi kebakaran, tetapi kami terlatih untuk menghadapi kebakaran,” ungkapnya.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun di baliknya terdapat latihan, pengalaman dan kesiapan menghadapi situasi yang tidak pernah bisa dipastikan. 

Masyarakat mungkin melihat petugas pemadam kebakaran sebagai sosok yang selalu berani. Helm. Seragam. Selang. Armada merah. Sirene. Semuanya seolah menjadi simbol keberanian. Tetapi di balik perlengkapan itu tetap ada manusia yang bisa merasa takut. Mario mengaku rasa takut tetap ada setiap kali harus masuk ke situasi berbahaya. Namun rasa takut itu harus dikalahkan oleh sesuatu yang lebih besar.

“Rasa takut saya dikalahkan oleh keinginan saya untuk menyelamatkan nyawa,” katanya.

Bukan sekadar slogan. Ia pernah berada dalam situasi yang hingga kini masih membekas dalam ingatannya.

Salah satu kejadian yang paling ia ingat adalah kebakaran di Mega Mal Manado pada Sabtu, 16 Mei 2026. Kebakaran tersebut mengakibatkan seorang karyawan meninggal dunia. Mario mengungkapkan, saat kejadian masih terdapat korban di dalam bangunan.

Keinginan untuk masuk dan melakukan penyelamatan begitu besar. Namun kondisi di lapangan membuat akses menuju korban tertutup kobaran api.

Bagi seorang petugas yang terbiasa bergerak menuju sumber bahaya, tidak dapat mencapai korban menjadi pengalaman yang sangat berat. Peristiwa itu membekas bukan hanya karena besarnya api.

Tetapi karena ada seseorang yang ingin diselamatkan, sementara pada saat itu upaya tersebut tidak dapat dilakukan.

Setiap api yang berhasil dipadamkan dan setiap nyawa yang berhasil diselamatkan menjadi bagian dari perjalanan pengabdian Mario. Di tengah risiko pekerjaan, apresiasi masyarakat menjadi salah satu sumber semangat.

“Ketika ada yang berterima kasih kepada kami, kami bersyukur. Artinya, masih ada orang yang peduli dengan pemadam,” ujarnya.

Namun tidak semua respons berupa ucapan terima kasih. Ada pula kritik bahkan cacian ketika penanganan di lapangan tidak sesuai harapan masyarakat. Bagi Mario, hal itu merupakan bagian dari risiko pekerjaan.

“Sudah biasa. Itu memang risiko pekerjaan kami,” katanya.

Ia memilih tetap menjalankan tugas. Sebab ketika api berkobar, petugas tidak memiliki banyak pilihan. Keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas.

Ancaman kebakaran di tengah musim kemarau panjang tidak hanya menjadi urusan petugas pemadam. Masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya. Mario mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika kondisi cuaca panas dan lingkungan semakin kering. Jangan membakar sampah sembarangan. Pastikan instalasi listrik dalam kondisi aman. Periksa kompor setelah digunakan. Pastikan peralatan yang dapat memicu api benar-benar sudah dimatikan. Langkah-langkah itu mungkin terlihat sederhana.

Namun sering kali, pencegahan memang dimulai dari hal yang sederhana. Karena ketika api sudah membesar, yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar harta benda. Bisa jadi sebuah rumah. Bisa jadi sebuah lingkungan.

Bahkan bisa jadi nyawa seseorang.

Dan ketika semua orang memilih menjauh dari kobaran api, para petugas seperti Om Damkar justru bergerak mendekat. Bukan karena mereka tidak takut. Tetapi karena bagi mereka, ada nyawa yang mungkin masih menunggu untuk diselamatkan. (lak)

Editor : Livrando Kambey
Pemadam Damkar MANADO