Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Mata Kering Bisa Jadi Gejala Autoimun, JEC Ajak Masyarakat Waspada sejak Dini

Amelia Beatrix • Rabu, 16 Juli 2025 | 16:07 WIB

JEC Eye Hospitals and Clinics mengajak masyarakat lebih waspada terhadap gejala mata kering yang bisa menjadi alarm penyakit autoimun, dalam rangka peringatan Dry Eye Awareness Month 2025.
JEC Eye Hospitals and Clinics mengajak masyarakat lebih waspada terhadap gejala mata kering yang bisa menjadi alarm penyakit autoimun, dalam rangka peringatan Dry Eye Awareness Month 2025.

MANADOPOST.ID — Gejala mata kering yang sering dianggap sepele ternyata bisa menjadi sinyal awal penyakit autoimun. Menyambut peringatan Dry Eye Awareness Month, JEC Eye Hospitals and Clinics mengingatkan masyarakat akan pentingnya deteksi dini terhadap mata kering sebagai bentuk kewaspadaan terhadap gangguan sistem imun.

Menurut data JEC, sekitar 10% pasien mata kering berpotensi mengalami Sindrom Sjögren, yakni gangguan autoimun kronis yang menyerang kelenjar air mata. Sayangnya, dua dari tiga kasus sindrom ini tidak terdiagnosis. Jika tidak ditangani sejak awal, kondisi ini dapat menyebabkan luka pada kornea, infeksi, bahkan gangguan penglihatan permanen.

Mata kering bukan sekadar gangguan ringan. Bisa jadi itu alarm tubuh terhadap masalah autoimun,” ujar dr. Niluh Archi, SpM, Spesialis Mata Kering dan Lensa Kontak di JEC. Ia menambahkan bahwa masyarakat perlu memahami bahwa gangguan pada mata bisa mencerminkan kondisi sistemik yang serius.

Mata Kering dan Penyakit Autoimun

Autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat, termasuk kelenjar penghasil air mata. Akibatnya, produksi air mata menurun drastis, menyebabkan mata terasa kering dan perih. Selain Sindrom Sjögren, penyakit seperti lupus, rheumatoid arthritis, dan scleroderma juga dapat menyebabkan mata kering akibat peradangan sistemik.

“Gejala autoimun kerap tidak spesifik, dan mata kering bisa menjadi salah satu indikasinya. Maka kolaborasi antara dokter mata dan penyakit dalam sangat penting,” jelas dr. dr. Laurentius Aswin Pramono, M.Epid, SpPD-KEMD dari JEC.

JEC Hadirkan Layanan Komprehensif untuk Mata Kering

Sebagai pionir layanan mata kering di Indonesia, JEC menghadirkan JEC Dry Eye Service sejak 2017 dengan pendekatan multidisiplin. Teknologi diagnostik mutakhir digunakan untuk memastikan diagnosis akurat, mulai dari Schirmer Test, Tear Break Up Time, Ocular Surface Staining, hingga Meibography dan TearLab® Osmometer.

JEC juga menyediakan berbagai metode terapi, termasuk tetes mata antiinflamasi, autologous serum, hingga terapi E-eye® IPL dan Dry Eye Spa. Layanan ini kini tersedia di lima lokasi, termasuk JEC @ Kedoya, JEC CANDI @ Semarang, JEC ORBITA @ Makassar, JEC BALI @ Denpasar, dan JEC JAVA @ Surabaya.

Prevalensi Tinggi, Edukasi Jadi Kunci

Di Indonesia, prevalensi mata kering mencapai 27,5% hingga 30,6%, menjadikannya salah satu kondisi mata yang paling umum. Sepanjang 2023–2025, JEC mencatat lebih dari 72.000 pasien mata kering yang ditangani di seluruh jaringan rumah sakit dan klinik mereka.

Kurangnya edukasi dan kesadaran menyebabkan banyak pasien mengabaikan gejala awal. “Dengan edukasi yang tepat, kita bisa mencegah komplikasi serius sejak dini,” tutup dr. Niluh Archi.(ame)

Editor : Amelia Beatrix
#auto imun #RheumatoidArthritis #jec #lupus #waspada #mata kering