Renografi memungkinkan dokter memperoleh gambaran menyeluruh kondisi ginjal, mulai dari aliran darah, fungsi ginjal kanan dan kiri, hingga proses pengeluaran urin. Teknologi ini membantu mendeteksi gangguan yang tidak selalu teridentifikasi melalui pemeriksaan konvensional.
Dokter Spesialis Kedokteran Nuklir RSUP Kandou, dr Arlene Angelina SpKN-TM mengatakan, renografi sangat membantu dokter dalam menentukan penanganan yang tepat bagi pasien.
“Renografi memberikan gambaran komprehensif mengenai fungsi masing-masing ginjal. Pemeriksaan ini sangat bermanfaat bagi pasien dengan dugaan gangguan ginjal maupun untuk pemantauan pasca tindakan medis,” ujarnya.
Pemeriksaan renografi direkomendasikan untuk berbagai kondisi, antara lain menilai keseimbangan fungsi ginjal kanan dan kiri, mendeteksi dugaan penyumbatan saluran kemih, pemantauan pasca transplantasi atau operasi ginjal, evaluasi hipertensi akibat gangguan ginjal, serta kelainan saluran kemih bawaan pada anak.
Dari sisi keamanan, penggunaan isotop dalam renografi tergolong aman. Dosis radioaktif yang digunakan sangat kecil dan tidak menimbulkan efek samping jangka panjang, sehingga pasien dapat menjalani pemeriksaan dengan nyaman.
Masyarakat, khususnya kelompok berisiko seperti penderita hipertensi, diabetes, kelainan saluran kemih, serta pasien pasca operasi, diimbau agar lebih peduli terhadap kesehatan ginjal dan tidak menunda pemeriksaan.
“Teknologi renografi bersifat non-invasif, cepat, dan sangat membantu dalam menentukan terapi yang tepat bagi pasien,” tambah dr Arlene.
Sementara itu, Direktur Utama RSUP Kandou, Prof Dr dr Starry Rampengan SpJP(K) FIHA MARS, mengapresiasi hadirnya layanan ini sebagai bagian dari komitmen rumah sakit dalam meningkatkan mutu layanan. Manajemen, kata dia, terus memberikan dukungan penuh terhadap inovasi yang dikembangkan oleh sumber daya manusia RSUP Kandou.
“Ke depan, RSUP Kandou akan terus memperkuat fasilitas dan kualitas tenaga medis untuk meningkatkan standar pelayanan dan menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat Sulawesi Utara dan kawasan Indonesia Timur,” ujar Prof Starry.(***)
Editor : Tanya Rompas