MANADOPOST.ID- Penurunan kualitas penglihatan kerap dianggap sebagai bagian alami dari proses penuaan. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda awal gangguan mata serius seperti katarak yang memerlukan penanganan medis.
Dokter spesialis mata, Dr Nugraha Adiyasa dari KMN EyeCare menjelaskan, katarak berkembang secara perlahan dan sering tidak disadari pada tahap awal. Banyak penderita baru menyadari ketika penglihatan sudah terganggu dan aktivitas sehari-hari mulai terhambat.
“Katarak adalah kondisi ketika lensa mata yang seharusnya jernih menjadi keruh, sehingga cahaya tidak dapat difokuskan dengan baik ke retina,” ujarnya.
Kondisi ini paling sering dialami oleh lansia karena proses penuaan alami. Seiring bertambahnya usia, struktur protein pada lensa mata berubah dan menyebabkan kekeruhan secara bertahap.
Secara global, katarak masih menjadi salah satu penyebab utama gangguan penglihatan. Berdasarkan laporan World Report on Vision yang dirilis World Health Organization pada 2019, sekitar 2,2 miliar orang di dunia mengalami gangguan penglihatan, dan sebagian besar sebenarnya dapat dicegah atau diobati.
Di Indonesia, data Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia menunjukkan katarak menjadi penyebab kebutaan tertinggi, terutama pada usia di atas 50 tahun.
Selain faktor usia, katarak juga dipicu oleh paparan sinar ultraviolet dalam jangka panjang. Aktivitas di luar ruangan tanpa pelindung mata dapat mempercepat kerusakan lensa.
Faktor lain yang meningkatkan risiko antara lain diabetes, penggunaan obat kortikosteroid jangka panjang, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, hingga riwayat cedera mata.
Meski tidak bisa sepenuhnya dicegah, risiko katarak dapat diminimalkan dengan gaya hidup sehat, seperti menggunakan kacamata pelindung UV, mengonsumsi makanan kaya antioksidan, serta rutin mengontrol penyakit kronis.
Pada tahap awal, gejala katarak sering dianggap sepele. Penglihatan mulai buram, berkabut, atau tidak fokus saat membaca dan melihat objek kecil.
Selain itu, penderita juga kerap mengalami silau berlebihan saat terkena cahaya, terutama saat berkendara di malam hari. Penglihatan di kondisi gelap pun menjadi semakin sulit.
Perubahan warna juga bisa terjadi, di mana warna tampak lebih pudar atau kekuningan. Tidak sedikit penderita merasa harus sering mengganti kacamata, namun penglihatan tetap tidak membaik.
Dalam beberapa kasus, katarak dapat menyebabkan penglihatan ganda pada satu mata dan membuat mata cepat lelah.
Untuk memastikan katarak, diperlukan pemeriksaan menyeluruh oleh dokter spesialis mata. Pemeriksaan meliputi tes ketajaman penglihatan hingga evaluasi struktur mata menggunakan alat khusus.
“Jika diperlukan, pupil akan dilebarkan dengan tetes mata agar bagian dalam mata dapat diperiksa lebih detail,” jelasnya.
Satu hal yang perlu dipahami, katarak tidak dapat disembuhkan dengan obat tetes mata, suplemen, atau kacamata. Satu-satunya penanganan efektif adalah melalui operasi.
Operasi katarak dilakukan dengan mengganti lensa mata yang keruh dengan lensa buatan yang jernih. Prosedur ini kini tergolong aman, cepat, dan sebagian besar pasien dapat langsung pulang di hari yang sama.
Dokter menekankan pentingnya pemeriksaan mata secara rutin, terutama bagi usia lanjut. Deteksi dini memungkinkan penanganan dilakukan sebelum gangguan penglihatan semakin parah.
“Jika mulai merasakan perubahan penglihatan, sebaiknya segera periksa ke dokter. Penanganan yang tepat bisa membantu mengembalikan kualitas penglihatan dan menjaga kualitas hidup,” tutupnya.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, diharapkan kasus kebutaan akibat katarak dapat ditekan dan kualitas kesehatan mata tetap terjaga.(***)
Editor : Tanya Rompas