Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Tatong Kecam Teater Pingkan Matindas ISBIMA

Clavel Lukas • Rabu, 4 November 2020 | 15:38 WIB
Wenny Lumentut
Wenny Lumentut
MANADOPOST.ID-- Pagelaran teater Pingkan Matindas: Cahaya Bidadari Minahasa yang dipentaskan Institut Seni Budaya Independen Manado (ISBIMA), Sabtu 31 Oktober 2020 di eks Gedung DPRD Sulawesi Utara (Sulut) banjir kecaman dari pemerintah Kabupaten Bolmong Raya. Setelah Bupati Bolmong Yasti Mokoagow, kali ini Wali Kota Kotamobagu Tatong Bara menyatakan kemarahannya terhadap pementasan teater yang dinilai melecehkan leluhur Mongondow yakni Raja Loloda Mokoagow tersebut. Menurut Tatong  alur ceritanya hanya berdasarkan hayalan dan bukan atas fakta sejarah. “Saat mendapatkan informasi ini, saya menghubungi Ibu Yasti yang kebetulan berada di Manado untuk mencari tahu kebenaran informasi ini. Hal ini cukup menyedihkan dan mencederai kami masyarakat BMR, apalagi jika kemudian ceritanya bukan berdasarkan atas fakta sejarah,” ungkapnya. Pimpinan adat tertinggi di Kotamobagu ini menilai apa yang dipentaskan dalam teater itu jelas merupakan bentuk pelecehan terhadap masyarakat Bolmong Raya. “Ini sangat melukai hati dan perasaan kami warga Bolmong Raya, karena secara vulgar menggambarkan leluhur kami yakni Raja Loloda Mokoagow yang merupakan panutan, teladan dan harga diri orang Mongondow sebagai sosok kurang etis dalam berperilaku, apalagi dalam perspektif adat Mongondow,” ungkapnya marah. Lebih lanjut menurutnya pihak ISBIMA harus mengklarifikasi alur cerita yang dipentaskan sekaligus mempertanggungjawabkannya ke publik, terutama ke masyarakat Bolmong Raya. “Ini wajib diluruskan karena menurut kami tidak sesuai fakta, terutama dialog yang diucapkan Raja Loloda Mokoagow dalam pementasan itu serta bagaimana ia digambarkan tewas ditangan prajuritnya dan kemudian potongan kepalanya dipertotonkan. Kami mempertanyakan referensi sang sutradara saat menulis kisah ini, apalagi Raja Loloda Mokoagow adalah salah satu leluhur yang sangat dihargai, dihormati dan disakralkan dalam sejarah perjalanan Kerajaan Bolaang Mongondow. "Kami minta ISBIMA meluruskan ini serta mempertanggungjawabkannya ke masyarakat Bolmong Raya,” kuncinya. (ctr-01/ayu) Editor : Clavel Lukas
#Teater Pingkan Matindas