I
Menurut laporan yang dihimpun, aksi tersebut bermula ketika R merasa tidak puas dengan cara guru menangani disiplin anaknya. Alih-alih menyelesaikan persoalan secara langsung dan bijaksana melalui jalur komunikasi internal sekolah, R memilih untuk mengungkapkan kemarahannya di dunia maya. Sayangnya, bukannya menuai simpati justru mengundang reaksi dan bulian dari netizen. "Om Cuma ada beking malo pe anak, kasiang,” tulis Rita dalam komentarnya di video viral tersebut.
Dalam video tersebut, terlihat bahwa guru yang bersangkutan, Mem Simpuru, berusaha meminta maaf berkali-kali, namun tetap tidak mendapat respons yang lebih konstruktif dari R. Hal ini menimbulkan gejolak di kalangan masyarakat, di mana banyak pihak menginginkan penyelesaian masalah dengan cara yang lebih dewasa dan solutif. “Kalu so nemau guru mo didik tu anak beking sekolah sandiri,” tulis Sity. “Kami dukung Mem Simpiru,” kata Pandi.
Para pendidik di SMA 1 Kotamobagu turut terdampak oleh insiden ini. Mereka khawatir bahwa tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh orang tua siswa dapat menciptakan iklim yang tidak kondusif dalam proses belajar mengajar. Beberapa guru bahkan menyuarakan keprihatinan mereka melalui media sosial, menekankan pentingnya menghargai peran pendidik dalam mendidik generasi masa depan.
Pihak sekolah juga diminta untuk segera mengambil langkah untuk menyelesaikan persoalan ini secara internal, agar permasalahan tidak terus berlarut dan menimbulkan dampak negatif yang lebih luas. Sementara itu, masyarakat dan pengamat pendidikan berharap agar peristiwa ini menjadi pembelajaran bahwa penyelesaian masalah sebaiknya ditempuh melalui dialog dan musyawarah, bukan melalui aksi viral yang merusak nama baik.
Namun melalui media sosial Romi Gavariel, yang bersangkutan telah meminta maaf. “Saya sebagai orang tua yang beriman dan mempunyai kasih telah memaafkan ibu guru yang telah menampar anak saya. Saya selaku manusia biasa memohon maaf kepada pihak-pihak yang merasa dirugikan kepada ibu guru, kepala sekolah dan semua guru-guru di SMA 1 Kotamobagu. Mungkin saya terlarut dalam emosi sehingga ada kata-kata dan tindakan yang kurang berkenan. Semoga kejadian ini tidak akan terulang lagi dimasa yang akan datang. Terima kasih semua pihak yang telah memberikan suport,” tulis akun bersangkutan. (kly) Editor : Jackly Makaraung