MANADOPOST.ID – Event bergengsi Singapore Marathon tahun 2023 sukses digelar beberapa hari lalu. Peserta berbagai kalangan dari penjuru dunia merasakan berlari di negara tetangga Indonesia ini.
Dari puluhan ribu pelari, ada salah satu yang paling mencuri perhatian karena mengenakan baju adat daerah. Dia adalah Rendy Kewas. Rendy menunaikan full marathon berkostum kabasaran.
Foto dirinya memakai kostum ksatria khas Minahasa saat marathon berseliweran di jagat media sosial. Banyak yang memuji karena unik dan menarik. Namun di balik itu, ada perjuangan bagi ayah dari 1 anak ketika berlari selama 6 jam 49 menit 57 detik.
“Jarak tempuhnya 42,195 km ditambah kostumnya yang berat. Soalnya bahan dan cara pembuatannya masih tradisional. Hasilnya setelah lari jarak jauh, badan jadi luka-luka karena lecet,” ungkap pria yang akrab disapa Papi Jhon ini.
Saat berlari, dia harus menahan rasa sakit. Tidak hanya kaki namun seluruh badan. “Bukan cuma pegal, tapi sudah ditambah luka,” ceritanya.
Namun dirinya tetap bersyukur karena berhasil menyelesaikan misi. Apalagi bagi dia, event ini punya kesan tersendiri. Rutenya berada di dalam kota yang megah. Finish line-nya di dalam stadion. “Vibes-nya luar biasa, megah dan meriah,” singkatnya.
Sebelum terjun marathon, para peserta harus melakukan persiapan matang. Pun dengan Papi Jhon. Meski diakuinya masih kurang karena harus bagi waktu dengan pekerjaan.
“Saya lebih perbanyak latihan angkat beban dan penguatan otot selama 6 bulan belakangan. Ya meski banyak bolong hehe,” jelas pria yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil ini.
Namun impiannya menjajal Singapore Marathon tak pernah surut. Hal ini tak lepas dari dukungan istri, anak, keluarga besar dan teman-teman Komunitas Riot Indonesia Chapter Manado.
“Saya berlari sejak tahun 2017. Namun seriusnya tuh di tahun 2019. Badan sehat hidup berkualitas,” ceritanya soal awal mula berlari. Dari situ ia menekuni hobi tersebut. “Tahun lalu saya memakai baju adat Kabasaran di Maybank Bali Marathon. Tapi hanya Half Marathon (KM 21,0975),” ujar Papi Jhon.
Untuk full marathon, Singapura menjadi lokasi pertama kali ia memakai baju adat kebasaran lengkap dengan topi dan tengkorak. Ditanya soal kenapa mau memakai baju adat, Papi Jhon menjawab semua berawal dari kesadaran diri.
“Saya tidak bisa mendekati podium juara. Nah untuk itu saya berpikir bagaimana saya ikut event besar Indonesia dan turut berprestasi,” ungkapnya.
Tahun lalu ia berdiskusi dengan rekan-rekannya bernama tim X-Man beranggotakan Dave, Billy, Indra dan Marco. Mereka mendorongnya untuk memilih pakai baju Kabasaran untuk membawa Minahasa semakin dikenal dunia. Dan misinya berhasil. Makna kostum tersebut yang menunjukkan semangat patriotik berhasil diwujudkan Papi Jhon.
“Jika ada kesempatan saya ingin ikut Kuala Lumpur Marathon, New York Marathon dan Tokyo Marathon,” harapnya.
Ia pun berpesan bagi yang ingin mengikuti marathon untuk selalu minta dan percaya penyertaan Tuhan. Bukan hanya persiapan fisik namun persiapan mental juga wajib. “Untuk mendapat catatan waktu finish terbaik dan progresif, practice is mandatory! Segala sesuatu butuh proses,” tuturnya.
Bagi warga Sulawesi Utara yang baru memulai untuk lari, Papi Jhon menyarankan untuk bergabung dengan komunitas. Salah satunya RIOT INDONESIA karena jaringan luas se-Nusantara. “Gabung komunitas bisa membantu saat berlari,” tukasnya. (tkg)
Editor : Kenjiro Tanos