MANADOPOST.ID- Pulau Bali dikenal dengan keunikan, kekayaan alam, dan budaya yang menjadikannya salah satu tujuan wisata dunia. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu yang kental dengan adat istiadat leluhur.
Desa-desa di daerah pegunungan, terutama yang berasal dari zaman Bali Kuno, menampilkan budaya Bali yang erat kaitannya dengan nilai-nilai agama Hindu, termasuk di antaranya desa Tenganan Pegringsingan.
Budaya di desa ini memiliki nilai-nilai tradisi yang sedikit berbeda dari budaya Bali pada umumnya. Kepercayaan masyarakat Tenganan terdiri atas kepercayaan kultural dan spiritual, dimana mereka meyakini bahwa menjalankan tradisi akan membawa kemakmuran dan menghindarkan dari malapetaka. Mereka juga menganggap Dewa Indra, Dewa Perang, sebagai dewa tertinggi.
Salah satu tradisi unik dan khas dari Bali yang dijalankan di desa Tenganan adalah Tradisi Mekare-Kare, atau sering disebut perang pandan. Tradisi ini diadakan selama dua hari sebagai bagian dari upacara Ngusaba Kapar (Sasih Sembah), yang merupakan persembahan untuk menghormati Dewa Indra. Tradisi ini hanya ada di desa Tenganan yang juga disebut desa Bali Kuno atau Bali Aga.
Pelaksanaan Mekare-Kare dihadiri oleh seluruh warga yang mengenakan pakaian adat Tenganan yaitu kain tenun Pegringsingan. Para peserta membawa pandan berduri yang diikat menjadi gada dan perisai dari rotan. Dalam pertarungan, dua pemuda saling menyerang dengan pandan berduri, memukul punggung lawan dengan gada pandan yang dibawa. Perang pandan dipimpin oleh seorang pemimpin adat.
Editor : Tanya Rompas