Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Jangan Takut Dibenci, Strategi Hadapi Nyinyiran untuk Mencapai Tujuanmu

Fandy Gerungan • Selasa, 13 Agustus 2024 | 17:01 WIB
Ilustrasi Kepribadian. (Freepik)
Ilustrasi Kepribadian. (Freepik)

MANADOPOST.ID--Seiring bertambahnya usia, kita sering kali dihadapkan pada berbagai komentar dan kritik yang datang dari lingkungan sekitar. Nyinyiran seperti "Kenapa belum kerja?" atau "Kapan menikah?" sering kali membuat kita merasa tertekan.

Fenomena ini bukanlah hal baru; dari masa kuliah hingga dewasa, kita sering dihadapkan pada pertanyaan dan perbandingan yang tidak relevan dengan kehidupan pribadi kita.

Mengapa orang suka membandingkan hidup kita dengan orang lain? Jawabannya mungkin terletak pada cara berpikir yang dikenal sebagai pemikiran biner. Pemikiran ini melihat dunia dalam hitam dan putih, benar dan salah.

Contohnya, jika seseorang belum menikah di usia tertentu, maka dianggap gagal. Namun, dunia nyata jauh lebih kompleks daripada sekadar dua pilihan itu.

Pemikiran biner memiliki sejarah panjang, berkembang sejak zaman kuno. Di China, konsep Yin dan Yang menjelaskan keseimbangan antara dua kekuatan yang bertolak belakang.

Namun, meskipun banyak digunakan, pemikiran ini sering kali tidak rasional karena tidak mempertimbangkan kompleksitas dunia nyata.

Di Indonesia, pemikiran biner sering diperkuat oleh norma budaya dan sistem edukasi. Norma-norma seperti "wanita harus di rumah" atau "pria harus bekerja" menciptakan standar sosial yang kaku.

Sistem pendidikan juga sering mengajarkan kita untuk berpikir dalam jawaban yang benar atau salah, yang menghambat kreativitas dan pemikiran kritis.

Bagaimana cara menghadapi pemikiran biner dan nyinyiran dari orang lain? Pertama, kita harus menanamkan mindset bahwa dunia tidak hitam putih. Kita bisa menjadi individu yang mandiri namun tetap peduli pada keluarga, atau menikah tapi menunda punya anak. Intinya, jalani hidup sesuai dengan apa yang kamu anggap benar, bukan apa yang dianggap benar oleh masyarakat.

Kedua, terapkan probabilistik thinking. Alih-alih melihat sesuatu sebagai benar atau salah, anggap semua hal sebagai mungkin dan tergantung pada konteks. Misalnya, tidak semua orang sukses memiliki rumah dan mobil, dan tidak semua orang yang memiliki rumah dan mobil adalah orang sukses.

Namun, apa yang harus dilakukan jika kita dibenci karena pemikiran ini? Sebenarnya, tidak masalah dibenci. Orang-orang yang sukses sering kali adalah mereka yang berani mempertahankan idealismenya, meskipun harus menghadapi kritik dan kebencian.

Contohnya adalah Elon Musk dan Greta Thunberg, yang meskipun dibenci oleh banyak orang, tetap memberikan dampak besar pada dunia.

Terakhir, ingatlah bahwa sukses tidak selalu berarti disukai oleh semua orang. Justru, kadang-kadang kamu perlu bersikap tegas dan tidak kompromi untuk mencapai tujuanmu. Jadi, jangan takut dibenci, karena itu bisa menjadi tanda bahwa kamu sedang berada di jalur yang benar. (*)


Sumber: Youtube Satu Persen

Editor : Clavel Lukas
#kepribadian