Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Rahasia Sukses Menanam Porang, Tanaman Bernilai Tinggi yang Menguntungkan Petani

Alfianne Lumantow • Rabu, 4 September 2024 | 16:08 WIB
Ilustrasi tanaman Porang (dok Jawa Pos
Ilustrasi tanaman Porang (dok Jawa Pos

MANADOPOST.ID--Porang, tanaman umbi yang semakin populer di kalangan petani Indonesia, kini menjadi primadona baru di dunia pertanian. Tidak hanya karena nilai ekonomisnya yang tinggi, tetapi juga karena proses penanamannya yang relatif mudah dan cocok untuk berbagai jenis lahan.

Porang banyak dimanfaatkan dalam industri pangan, kosmetik, hingga farmasi, menjadikannya komoditas yang menjanjikan.

Porang dapat tumbuh dengan baik di berbagai jenis tanah, tetapi tanah yang gembur dan subur dengan pH 6-7 adalah yang paling ideal. Tanaman ini juga membutuhkan naungan hingga 60%, sehingga lahan yang berada di bawah pepohonan besar seperti jati atau sengon sangat cocok untuk ditanami porang.

Sebelum menanam, lahan perlu dibersihkan dari gulma dan tanaman liar. Setelah itu, cangkul atau bajak tanah hingga gembur. Buatlah bedengan dengan lebar sekitar 1 meter dan tinggi 20-30 cm. Jarak antar bedengan sebaiknya sekitar 50 cm untuk memudahkan perawatan dan pemanenan.

Bibit porang bisa didapatkan dari umbi atau katak (bulbil). Bibit yang baik adalah yang sehat, bebas dari penyakit, dan memiliki berat minimal 50 gram. Tanam bibit pada kedalaman sekitar 5-10 cm dengan jarak tanam 30x30 cm atau 40x40 cm, tergantung pada kondisi lahan. Pastikan tunas menghadap ke atas saat menanam.

Porang tidak memerlukan penyiraman yang terlalu sering, terutama jika ditanam di lahan yang teduh. Namun, pastikan tanah tetap lembab terutama saat musim kemarau panjang. Sebaliknya, hindari lahan yang tergenang air karena dapat menyebabkan umbi membusuk.

Untuk mendapatkan hasil yang optimal, porang membutuhkan pemupukan secara rutin. Gunakan pupuk organik seperti kompos atau pupuk kandang pada awal penanaman. Tambahkan pupuk NPK seimbang setiap 3-4 bulan sekali untuk merangsang pertumbuhan umbi.

Selain itu, penyiangan gulma secara rutin juga penting agar porang dapat tumbuh tanpa gangguan. Porang relatif tahan terhadap hama, tetapi tetap waspada terhadap serangan kutu daun, ulat, atau tikus. Lakukan pengamatan secara rutin dan jika diperlukan, semprotkan pestisida organik.

Penyakit yang sering menyerang porang adalah busuk umbi, yang bisa dicegah dengan memastikan lahan memiliki drainase yang baik.

Porang biasanya siap panen setelah 2-3 tahun, tergantung pada perawatan dan kondisi lahan. Umbi yang siap dipanen memiliki ukuran yang cukup besar dan kulit yang keras. Setelah dipanen, umbi porang dapat dijemur hingga kering untuk dijual sebagai bahan baku tepung konjak atau produk lainnya.

Pasar porang saat ini semakin luas, baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor. Tepung konjak yang dihasilkan dari umbi porang memiliki banyak manfaat, terutama dalam industri makanan sehat dan diet. Selain itu, harga jual porang yang terus meningkat membuat budidaya ini semakin diminati oleh petani di berbagai daerah.

Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, Anda dapat memulai budidaya porang dengan mudah dan berpeluang mendapatkan keuntungan yang menjanjikan. Budidaya porang bukan hanya menguntungkan dari segi ekonomi, tetapi juga ramah lingkungan karena tanaman ini dapat tumbuh di bawah naungan pohon dan tidak memerlukan perawatan yang intensif.

Editor : Clavel Lukas
#Porang