MANADOPOST.ID- Teraphobia, atau ketakutan berlebihan terhadap monster atau makhluk menakutkan, adalah fenomena yang jarang dibahas namun memiliki dampak yang signifikan pada kehidupan mereka yang mengalaminya. Secara harfiah, teraphobia berasal dari dua kata Yunani: ‘tera’ yang berarti monster dan ‘phobos’ yang berarti ketakutan mendalam. Kondisi ini menyebabkan penderitanya mengalami kecemasan yang hebat, bahkan hingga serangan panik, saat berhadapan dengan gambar atau cerita yang melibatkan monster.
Sama seperti fobia lainnya, intensitas teraphobia bervariasi pada tiap individu. Bagi sebagian orang, fobia ini mungkin dipicu oleh mimpi buruk di masa kecil yang terus menghantui hingga dewasa, sementara yang lain mungkin mendapatkannya dari tontonan film horor atau cerita rakyat yang penuh dengan sosok menakutkan. Mark, seorang desainer grafis di New York, berbagi bagaimana teraphobia membatasi kreativitasnya. Ia sering menolak proyek yang melibatkan desain makhluk mengerikan karena ketakutannya yang ekstrem.
Sarah, seorang wanita dari Seattle, bahkan lebih parah lagi. Ketakutannya pada monster membuatnya menghindari perayaan Halloween dan berusaha keras menghindari segala bentuk gambar atau film yang bisa memicu kecemasannya. Ketika rasa takut ini mulai mempengaruhi kehidupan sosial dan profesional, banyak penderita teraphobia merasa terjebak dalam lingkaran kecemasan yang tak berujung. Gejala fisik yang muncul termasuk keringat berlebihan, gemetar, detak jantung yang cepat, serta kesulitan bernapas.
Untuk mendiagnosis teraphobia, profesional kesehatan mental biasanya melakukan wawancara klinis dan membandingkan gejala yang dialami pasien dengan kriteria diagnostik yang terdapat dalam manual DSM-V (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders). Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan bahwa ketakutan yang dialami memang berlebihan dan mengganggu kehidupan sehari-hari.
Berbagai metode terapi bisa digunakan untuk mengatasi teraphobia. Salah satu yang paling efektif adalah Cognitive-Behavioral Therapy (CBT). Terapi ini berfokus pada perubahan pola pikir yang memicu rasa takut terhadap monster, dan secara bertahap memperkenalkan pasien pada pemicu ketakutan dalam lingkungan yang aman dan terkontrol. Dengan begitu, pasien dapat belajar mengatasi kecemasannya.
Selain CBT, ada juga metode Hypnotherapy dan Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR) yang dapat membantu mengatasi rasa takut pada tingkat bawah sadar. Teknik pernapasan dalam dan latihan relaksasi otot juga efektif meredakan gejala kecemasan yang muncul saat teraphobia kambuh.
Namun, meski terapi-terapi tersebut menunjukkan hasil yang positif, yang terpenting adalah dukungan dari lingkungan sekitar dan keinginan kuat dari dalam diri untuk pulih. Menjaga kesehatan mental dengan cara mengatur pola tidur, asupan makanan, dan rutin berolahraga juga dapat membantu mempercepat proses pemulihan. Jika Anda atau orang terdekat mengalami teraphobia, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional.
Pada akhirnya, hidup dengan teraphobia memang tidak mudah, namun bukan berarti tidak bisa diatasi. Dengan terapi yang tepat, dukungan, dan tekad yang kuat, banyak orang berhasil mengatasi ketakutan mereka dan menjalani hidup yang lebih tenang tanpa bayang-bayang monster yang menghantui. (sumber: psychology.tips)
Editor : Aprilia Sahari